Waktu Seakan Terhenti di Vientianne

Aku menatap petugas imigrasi di perbatasan Vietnam-Laos dengan tatapan kesal, “saya sudah ke kedutaan Laos di Hanoi, kata petugasnya saya tidak perlu visa on arrival atau visa wisatawan, hanya cap ijin tinggal 30 hari”, jelasku saat petugas memintaku mengurus visa on arrival untuk memasuki Laos. Petugas itu menatapku dengan tampang malas-malasan, setengah menguap ia menjawab dengan santai, “ kalau begitu kembali saja ke kedutaan Laos di Hanoi untuk urus cap yang dimaksud”. Aku tertawa getir bercampur kesal, geli, lucu, marah dan tidak bisa terima informasi yang tidak saling mendukung itu. Tanpa menjawab aku langsung menyelesaikan berbagai keperluan yang diminta. Sebagai  tamu, aku tentu harus minta ijin masuk ke “ empunya rumah”.
Aku datang ke Vientiane, Laos, dengan bis dari Hanoi, Vietnam. Pengalaman yang sedikit adventourous, menyajikan panorama indah sepanjang perjalanan dengan berjuta pertanyaan, kapan akan tiba di tujuan. Banyak pengalaman, tapi aku tidak akan mengulangi perjalanan via darat selama kurang lebih 24 jam dari Hanoi-Vientiane. Apalagi dengan informasi yang tidak sinkron antara pihak kedutaan Laos di Hanoi, dengan petugas di perbatasan.

Mini bis yang kutampangi menampung kurang lebih 24 orang. Kondektur sudah mengatur wisatawan asing duduk di bagian belakang. Bis berangkat menjelang maghrib dari Hanoi. Saat tiba di perbatasan keesokan paginya, biasanya bis ini akan menurunkan semua penumpang di depan gerbang check point, setelah selesai, para penumpang dapat “menyeberang” menuju Laos. Aku yang tak pernah merasakan pengalaman perbatasan di darat, benar-benar terpukau oleh keriuhan imigrasi Vietnam-Laos yang dipenuhi para pekerja dan berbaur dengan wisatawan.

Tiba di Vientiane, aku merasa seperti berada di Ciawi pada awal 1990-an. Tidak banyak kendaraan berseliweran. Motor, mobil berjalan pelan dengan santai. Tak ada hiruk pikuk suara klakson motor seperti di Hanoi atau klakson mobil di Jakarta. Orang-orang berjalan dengan tenang dan santai, juga berbicara dengan suara rendah dan pelan. Sepertinya, hampir tidak mungkin tersesat di kota ini.


Vientiane sebenarnya bukan fokus kunjungan wisatawan. Ibukota Laos ini biasanya hanya dikunjungi sebagai tempat transit menuju tempat-tempat wisata populer seperti Luang Prabang, Vang Vieng, Champasak, Savannakhet, dan Pakse.
Untuk makanan, selain makanan lokal/Laos, makanan India, Pakistan, italia dan resto ala francais cukup mudah ditemui di berbagai pusat keramaian. Makanan Laos sepintas lalu hampir mirip dengan makanan Thailand seperti Tam Maak Hoong  di Laos yang mirip dengan Som Tam di Thailand (salad pepaya muda yang disajikan dengan kacang, irisan tomat, taburan ebi, ditemani kacang panjang dan kol mentah). Untuk rasa, Tam Maak Hoong lebih dahsyat enaknya daripada som tam. Makanan lain mie goreng atau Phad, dengan berbagai variasi, adalah gabungan pengaruh Thailand dan China. Vietnam juga memberikan pengaruh pada makanan Laos. Spring roll basah dan goreng yang ada di Vientiane bentul-betul hasil pengaruh kuliner Vietnam.
Hanya ada 2 gedung tinggi di Vientiane, gedung pengadilan dan gedung pusat kebudayaan (Lao National Culture Hall). Gedung pusat kebudayaan ini konon dibangun sebagai “hadiah” dari pemerintah China. Sayangnya jarang dibuka dan diadakan kegiatan kebudayaan. Sesekali diadakan pameran di gedung ini. bersebrangan dengan gedung pusat kebudayaan terdapat Museum Nasional. Seperti kebanyakan museum nasional di Asia Tenggara, menyimpan koleksi yang sangat baik namun tidak dikomunikasikan dan ditampilkan secara menarik. Tata cahaya sangat redup dan beberapa benda tidak memiliki keterangan. Padahal koleksinya cukup menarik.
Sisa-sisa kejayaan Perancis tidak begitu kentara di tempat ini, kecuali baguette, coffe shop ala Perancis, dan gedung yang mereka sebut “Presidential Palace”.  Saat aku ke kota ini, gedung itu sedang dipugar. “Keriuhan” Vientianne dapat dirasakan di sekitar Sungai Mekong. Tiap sore, orang-orang akan berkumpul, minum es kelapa muda dan makan seafood. Kegiatan kuliner sebagian juga berpusat di sini dimana wisatawan berbaur dengan penduduk lokal. Di berbagai titik kota juga sangat menarik di malam hari. Orang-orang keluar untuk makan bersama keluarga atau teman. Belum jam sembilan malam, pintu-pintu akan di tutup dan semua kegiatan terhenti. Di sisi lain, kehidupan malam akan mulai semarak. Vientianne ternyata juga penuh dengan “rumah-rumah kreatif ” dengan live music performance berhias cahaya temaram. Mulai dari rumah untuk pertunjukan musik beneran hingga rumah untuk pertunjukan musik lengkap dengan perempuan panggilan.
Kreatifitas Vientianne tengah menggeliat untuk terus membangun. Sayangnya kebanyakan inisiatif masih berakar dari para bule yang tinggal di kota ini. Diskusi-diskusi menarik mengenai berbagai isu-isu kritis di Laos diadakan hampir setiap minggu di Monument Book, toko buku terbesar dan terlengkap di Vientianne. Sebagian besar topik diskusi membahas kebudayaan Laos yang sangat kaya dan beragam. Mereka yang hadir kebanyakan para bule yang tinggal di Vientianne atau wisatawan yang kebetulan berada di lokasi seperti aku.
Ada beberapa highlight yang bisa dimasukkan sebagai daftar kunjung. Salah satu yang akan disebut-sebut untuk dilihat adalah That Dam atau stupa hitam. Aku sendiri hampir tidak mengenali stupa ini. Selain tua dan tidak terawat, tidak ada tanda yang menunjukkan benda apa yang ada di depan mataku. Aku membandingkan dengan buku panduanku dengan tatapan hampir tidak percaya. Stupa ini agak berbeda dengan foto-foto yang ada. Dari kisah yang beredar, masyarakat percaya stupa ini dulunya dihuni oleh arwah pelindung Vientianne.

Adalah Pha That Luang,  stupa yang paling penting bagi Laos. Stupa ini tadinya dibangun  oleh Raja Settathirat setelah memindahkan Ibukota dari Luang Prabang ke Vientianne pada abad ke-16. Lalu dihancurkan pada masa pendudukan Thailand/Siam sekitar abad ke-19, dan kemudian direnovasi ulang oleh pemerintah Kolonial Perancis. Selain itu, Wat Shisaket dan Wat Hophrakeo adalah daftar kunjung yang tidak untuk dilewatkan. Di Wat Hophrakeo bersemayam patung Buddha terbaik yang aku lihat di Vientianne.




Kalau di Paris, Perancis ada Champs d’Elysee dengan Arc de Triompe, di Vientianne ada Avenue Lane Xang dengan Patuxay. Walau berdekor ala Laos, tapi monumen kemenangan ini tetap terlihat seperti Arc de Triomphe. Monumen ini dibangun sebagai peringatan kemenangan dan kemerdekaan dari Perancis.


Buddha Park (Xieng Khuang) menjadi penutup hari sebelum mengejar sunset di pinggiran Sungai Mekong. Berjarak kurang lebih 25 km di luar Vientianne, taman ini berisi puluhan figur yang menggambarkan tahapan kisah hidup sang Buddha, serta figur lain yang menggambarkan surga dan neraka. Patung Buddha tidur raksasa menjadi atraksi utama taman ini. Menuju Buddha Park, akan melewati “jembatan persahabatan”/friendship bridge, yaitu jembatan yang dibangun untuk “memperingati” persahabatan Laos – Thailand. Jembatan ini juga dilewati berbagai kendaraan dari dan menuju Thailand.




Motor, menjadi kendaraan favoritku  untuk mengukur jalan-jalan di Vientianne yang akan selalu mengarah ke Sungai Mekong. Di tengah jalan raya yang tenang, tidak ada suara klakson, semua kendaraan tetap berjalan lambat.  Walau telah berjalan menapaki hari-hari di Vientianne, tetap saja aku merasa waktu seakan terhenti di sini.

2 Comments

Join the discussion and tell us your opinion.

ninareply
February 12, 2012 at 7:08 pm

usefull

Rinareply
June 17, 2013 at 9:27 pm

Sis ke vientien dari bangkok brp jam? Bisa ga jj disana cm sehari? Tolong bls di email aku yah. Thanks

Leave a reply