Waerebo, Kisah Negeri di Atas Awan*

Aku menatap pegunungan yang menciptakan siluet kehijauan di kejauhan sana. Mentari pagi memancar dengan garang, namun kesejukan tetap terasa. Awan putih yang menutupi sebagian semburat hijau di balik pegunungan tersebut menimbulkan pertanyaan, ada apa gerangan dibalik rapatnya pepohonan tersebut. “Perlu waktu empat jam jalan kaki ke sana”, Martin tersenyum sambil menunjuk ke arah pegunungan nun jauh disana, seolah mengerti arti tatapanku.
Tanpa menjawab aku memandangi Martin yang dengan cekatan menyiapkan makan siang dan minuman yang hendak dibawa untuk bekal perjalanan. Martin, pemuda asal Waerebo, tempat yang akan aku datangi, adalah freelance guide bagi siapa saja yang berwisata ke Waerebo maupun daerah wisata lain di Flores, Nusa Tenggara Timur. Bila tak ada tamu, Martin bertani untuk menghidupi istri dan dua anaknya. Aku mendengar kisah mengenai kampung Waerebo, yang terletak di Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur ini justru dari seorang teman asal Prancis yang pernah trekking ke sana. Temanku ini benar-benar terkesan dan menggambarkan perjalanannya ke Waerebo sebagai perjalanan ke 200 tahun silam. Dia juga yang memberikan kontak Martin karena terkesan dengan keramahan dan kebaikan hatinya.
Kami memulai perjalanan dari Denge, Kampung ini adalah kampung terakhir yang bisa diakses kendaraan baik mobil atau motor. Setelah itu, perjalanan ke Waerebo harus ditempuh dengan berjalan kaki selama 3 – 4 jam.
Pemandangan pertama yang menyergap mata adalah kebun masyarakat dengan pohon coklat, bambu, kemiri, serta nanas yang tampil malu-malu di sana-sini. Kami acapakali berpapasan dengan masyarakat Waerebo yang hendak ”pulang kampung” ke atas gunung. Setiap kali berpapasan, mereka menyalami sambil mengucapkan selamat pada kami. Tidak jelas selamat apa. Mungkin agar di perjalanan kami selalu selamat. Masyarakat kampung Waerebo turun pada saat hari pasar setiap senin. Setiap kali turun dan naik, masyarakat Waerebo memerlukan waktu dua jam berjalan kaki dengan memikul kurang lebih 20 kilo kopi, sayur, dan hasil ladang lainya serta memikul beras, gula dan kebutuhan lain yang tak kalah beratnya ke kampung mereka.
Setelah pemandangan kebun masyarakat usai, kami disambut oleh suara aliran deras sungai Waelomba dengan hutan skunder yang melindungi kami dari sinar matahari. Mulai dari sini jalur perjalanan semakin berat. Jalan mulai terus mendaki, sesekali terjal, dan licin.
Aku tidak dapat membayangkan masyarakat Waerebo yang naik turun setiap minggu dengan membawa beban yang sedemikian berat. Makin ke atas, pepohonan semakin rapat. Pandangan kami didominasi eksotika hijau biru dengan semilir angin yang seolah memberi semangat untuk terus berjalan.
Sambil terengah-engah, aku mencoba mengatur nafas. Jalan yang kian menanjak memompaku untuk lebih menguras energi dan mengucurkan keringat. Tak tahan, aku berhenti di dekat sebuah pohon yang besarnya dua kali lingkaran tangan aku. Tiba-tiba dari belakang kami, muncul dua anak laki-laki kira-kira berumur 10 tahun sambil bersenandung. Keduanya membawa keranjang dari anyaman bambu yang digendong dipunggung. Entah apa isinya. Yang satu hanya mengenakan singlet dan satunya lagi mengenakan kaos lusuh dan bercelana pendek. Tak satupun dari mereka yang mengenakan alas kaki. Jari-jari kaki mereka menghitam terkena tanah dengan kulit kecoklatan yang terlihat mengeras. Martin menyapa kedua anak itu dan mengajak bicara dalam Bahasa Manggarai. Setelah mengucapkan salam, kedua anak tersebut setengah berlari meninggalkan kami, seolah tanpa beban karena terbiasa berjalan kaki selama dua jam untuk naik ke kampung mereka.
Hutan Harry Potter
Salah satu teman dalam rombongan berkata pada aku ”kalau mata aku ditutup dan aku diturunkan di tengah hutan ini, maka pasti aku akan mengira bahwa aku berada di dalam hutan di Jawa”. Menuju Waerebo, kami memang harus membelah hutan lindung Todo Repok dengan luas 10.500 Ha. Lelahnya perjalanan terbayarkan oleh keindahan hutan ini. di satu titik makin menuju ke atas, kami terkesiap menyaksikan pemandangan di depan mata. Kabut mulai turun menyelemuti seolah tak rela tatapan kami menembus pada birunya langit. Kami berjalan dalam sunyi menikmati sensasi ini. Pepohonan yang diselimuti kabut itu, mengingatkan aku pada gambar-gambar dalam film Harry Potter atau Lord of the Ring. Namun kali ini nyata dan bukan dalam film.

Hutan Todo Repok © Suer Suryadi

Setelah melewati kabut, kami tiba di puncak Pocoroko. Sebenarnya ini bukanlah titik tertinggi dari perjalanan kami. Jalur yang kami lalui memang bervariasi dari ketinggian 1500 m dpl, lalu turun lagi pada ketinggian 1200 m dpl dimana terdapat Kampung Waerebo. ”Di puncak ini terdapat sinyal handphone, jadi kalau mau telpon atau sms, di sinilah tempatnya”, Martin, yang mendedikasikan 15 tahun karirnya sebagai freelance guide berkata pada kami. Setengah tak percaya, kami menyalakan kembali telepon selular masing-masing. Sinyal telepon seluler memang langka didapatkan saat ini. Namun di Puncak Pocoroko, sinyal telepon seluler berlimpah sehingga kami mendapat anugrah untuk kembali terhubung dengan dunia luar. Di Puncak ini, pemandangan betul-betul luar biasa. Selain hutan sejauh mata memandang, Kampung Denge yang telah kami lewati, bahkan lautan yang berbatasan dengan langit pun dapat kami lihat. Aku juga merasa seperti berada sejajar dengan awan. Seolah mengundang aku untuk melompat dan bermain dengan awan-awan yang terasa begitu dekat. “Jika cerah, kita dapat melihat Gunung Inerie dari sini”, kata Martin sambil menawarkan kopi hangat pada kami. Perjalanan ke Waerebo memang penuh bonus. Melihat pemandangan yang bagus, dan bisa dapat sinyal handphone di tengah pegunungan.
Senangnya makan nasi
“Anak-anak sangat senang bila ada tamu datang ke kampung kami. Saat itulah mereka dapat kesempatan untuk makan nasi” kata Martin sambil mengusap peluhnya saat kami beristirahat di Puncak ke – 3. Puncak terakhir sebelum kami mengarah turun ke Kampung Waerebo. Nasi, merupakan makanan mewah bagi masyarakat kampung yang sehari-harinya makan ubi dan singkong rebus. “Biasanya mereka akan berkumpul menunggu tamu selesai makan untuk menunggu giliran”, tambahnya lagi. Namun, nasi yang dimakan para tamu adalah berkilo-kilo beban yang harus dibawa masyarakat Waerebo dengan berjalan kaki selama 2 jam.
Setelah menempuh “hutan leluhur”, bagian hutan yang menurut  masyarakat Waerebo tidak boleh diganggu dan ditebang, kami memasuki kampung tersebut. Hamparan kebun kopi memamerkan aneka warna hijau dan merah dari buah-buahnya, ibu-ibu menenun, remaja putri menumbuk kopi, bapak-bapak mengangkut kayu, dan anak-anak bermain di halaman kampung menyambut kedatangan kami. Semua tersenyum ramah dan mengucapkan selamat datang. Keramahan mereka membuat aku merasa di rumah. Kampung ini dikepung oleh pegunungan berwarna hijau yang diselimuti awan. Aku merasa seperti liliput yang berada di dalam panci.

Tenun Waerebo ©Suer Suryadi

Di tengah kampung terdapat empat rumah dengan arsitektur yang menurut masyarakat asli dari leluhur mereka. Rumah khas Manggarai dengan satu rumah utama atau rumah gendang(Mbaru Niang) dengan 3 rumah pengiring di sisi kanan dan kirinya. Kami masuk ke rumah gendang, dimana tamu selalu disambut dan biasanya menginap. Masuk ke rumah harus sedikit menunduk karena pintunya yang lebih pendek dari tinggi rata-rata orang dewasa. Rumah gendang berbentuk bulat, dilengkapi 8 kamar yang dihuni perwakilan tiap keturunan di Kampung Waerebo dengan hanya satu pintu masuk di bagian depan. Di bagian atas terdapat 5 bagian bertingkat, dimana penghuni rumah menyimpan hasil bumi. Tepat di jantung rumah, terdapat dapur dengan 8 tungku dimana para ibu memasak sambil menghangatkan diri melawan dinginnya udara Waerebo. “Di rumah ini tidak ada rahasia”, jelas Martin. “Tidak ada kebohongan, semua tahu apa yang terjadi, bila ada pasangan yang bertengkar, atau ada masalah. Penyekat hanyalah dinding kayu antar bilik kamar”, tambah Martin sambil mempersilakan kami duduk di “ruang tamu” rumah ini.

Kampung Waerebo@Suer Suryadi

Ritual bagi tamu yang datang adalah duduk di tikar yang telah dipersiapkan tuan rumah. Kami duduk berhadapan dengan perwakilan dari rumah gendang. Satu persatu mendatangi kami yang terduduk, menyalami sambil menyebutkan nama. Cara perkenalan yang cukup unik. Kami disambut dengan ayam putih. Tua golo, ketua adat versi Manggarai memegang ayam putih tersebut sambil mengucap salam. “Siapkan uang seikhlasnya sebagai pengganti kedatangan kita”, bisik Martin kepada aku. Martin menambahkan bahwa bukan nilai uangnya yang dilihat, melainkan niat meminta izin kepada leluhur. Setelah memberikan uang dengan disaksikan oleh semua orang sebagai tanda meminta izin, ayam putih diberikan kepada perwakilan tamu yang dituakan. “Uang itu biasanya kami simpan untuk kebutuhan rumah gendang”, jelas Martin sambil membantu tuan rumah menghidangkan kopi panas setelah ritual penyambutan  berakhir. “Sedangkan ayam putihnya dipotong untuk makan malam kita nanti”, jelas Martin lagi sambil tersenyum.

Disambut ayam putih ©Suer Suryadi

Perjalanan dengan bonus, beli 1 dapat 2
Entah sudah berapa lama Kampung Waerebo ada. Yang jelas, sebelum deretan rumah gendang dan rumah pengiringnya berdiri, kampung tersebut sudah mengalami enam kali perpindahan tempat. “Selalu ada “kejadian”, sehingga kampung kami pindah tempat enam kali”, jelas Martin, sambil memasukkan biji kopi yang telah dijemur ke dalam karung. Dia menunjuk ke berbagai arah di pegunungan berselimut warna hijau yang membentengi Kampung Waerebo. “Tempat terakhir yang di atas sana, tapi banyak (masyarakat) yang mati dan sakit-sakitan waktu kampung kami disitu”, katanya lagi sambil menunjuk kearah bukit dekat kebun kopi masyarakat. Catherine Allerton, peneliti asal Inggris yang melakukan penelitian di Waerebo pernah mengatakan pada aku bahwa pada 1970-an masih banyak kampung dengan rumah tradisional Manggarai di sekitar Kampung Denge. Namun pemerintah setempat saat itu “meminta” masyarakat untuk “turun gunung” dan meninggalkan kampung mereka. Saat ini di daerah Manggarai, Flores, sudah sangat sulit menemukan rumah gendang asli Manggarai. Selain di Waerebo, rumah tradisional bisa ditemukan di Todo, Manggarai. Konon, leluhur Kampung Waerebo adalah rakyat jelata yang melarikan diri meninggalkan raja mereka di Todo. Pelarian tersebut berakhir dengan membuat kampung di ketinggian 1200 m dpl di tengah keindahan hutan Todo Repok. Struktur kampung juga relatif masih lengkap. Selain rumah gendang, terdapat compang atau altar tempat persembahan kepada leluhur. Walaupun mayoritas masyarakat beragama katolik, tapi ritual persembahan untuk leluhur masih dipraktikkan hingga saat ini.
Mengunjungi Waerebo, seperti membeli satu produk dengan bonus tambahan. Keindahan hutan yang menyajikan beragam tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat lokal sebagai obat-obatan; serta berbagai jenis burung yang bikin penasaran dengan memamerkan suara kepada siapa saja yang menyambangi “rumahnya”. Konon di hutan ini terdapat burung endemik Celepuk flores (Otus alfredi). Setelah berjalan kaki di hutan, Bonus yang didapat adalah Kampung Waerebo yang menyajikan kekayaan budaya.
Dengan situasi kampung yang sedemikian terisolasi, masyarakat mendirikan kampung satelit bernama Kombo. Kampung ini telah aku lewati ketika menuju Denge. Disinilah anak-anak bersekolah, masyarakat berladang dan menginap untuk hari pasar. Untuk ritual adat masyarakat selalu kembali ke Waerebo walau harus berjalan kaki 2 jam. Hal ini karena didasarkan keyakinan para leluhur berada di kampung Waerebo untuk merestui segala “permintaan” mereka. Keyakinan memegang teguh adat dari leluhur inilah yang sampai saat ini masih dilakoni masyarakat Waerebo.
Kami Belum Merdeka
Salah satu komoditi utama Waerebo adalah kopi. Selain upacara adat dan keterikatan pada leluhur, Mungkin kopi adalah alasan mengapa masyarakat Waerebo tidak mau meninggalkan kampungnya. Rasa kopi dari Waerebo sedikit berbeda dengan kopi lain dari berbagai daerah di Indonesia. Kopi waerebo rasanya gurih manis seperti dicampur bubuk coklat, dengan sensasi aroma luar biasa yang pantas diadu dengan kopi lain yang lebih dikenal di Indonesia. Aku melihat kopi Waerebo diolah secara manual. Masyarakat menumbuk kopinya sendiri dengan alu untuk kemudian dijual atau dikonsumsi sendiri. Kopi adalah simbol persaudaraan, suguhan wajib si empunya rumah untuk menghormati tamu yang datang. Demikian juga dengan rombongan kami malam itu. Kami mengobrol dengan ditemani bergelas-gelas kopi dalam ruangan yang aromanya bercampur dengan aroma masakan dan rokok. “Masyarakat ingin sekali dibangun jalan raya ke Waerebo, sehingga mereka tidak perlu lagi berjalan kaki ke pasar sambil memikul beban berat”, penjelasan Martin mulai mewarnai obrolan ngalor ngidul kami.  “Mereka berfikir bahwa Waerebo belum merdeka karena tidak ada jalan raya”, imbuhnya lagi. “Tapi tidak ada yang berfikir bahwa dengan jalan raya, hutan akan rusak, dan bukan tidak mungkin kampung Waerebo dan adatnya akan punah”, kata Martin sambil menghabiskan kopi digelasnya.
Kami juga disambut dengan makan malam yang luar biasa. Ayam bumbu dengan kuah bening, sayur labu dan bunga pepaya, kerupuk dan….alpukat!. Masyarakat Kampung Waerebo memakan nasi dengan alpukat. Walau tak terbiasa, ketika aku coba ternyata nikmat juga. Setelah urusan perut selesai, kami disuguhkan Mbata, alunan lagu bersahutan-sahutan yang dinyanyikan para pria. Suaranya lumayan bagus dengan iringan alunan musik sederhana yang terdiri dari gendang dan gong. Menurut bisikan dari Martin, pertunjukan ini dilakukan untuk mengusir dingin.
Waerebo telah siap menyambut tamu. Masyarakat mendirikan toilet permanen yang bersih di bagian luar belakang rumah gendang. Walau begitu, Aku merasa sedikit tersiksa ketika harus ke toilet.  Aku harus menghadapi dinginya malam yang menusuk hingga ke jantung. Untungnya sudah siap dengan jaket tebal, kaos kaki dan sarung. Sambil menggerakkan senter untuk melihat jalan setapak berbatu di belakang rumah gendang, tak sengaja aku menatap langit. Indahnya langit Waerebo membuat aku terpana. Terasa begitu dekat dengan berjuta bintang ditutupi selimut putih, seolah menantang aku untuk terus bertahan melawan dingin sambil menatap langit.
Hingga larut malam, Mbaru niang masih dipenuhi celoteh, dan obrolan kami yang diiringi kepulan asap rokok dan kopi. Sesekali, terdengar tangisan anak-anak dari dalam kamar, disahuti dengan suara tawa anak lainnya dari bilik kamar yang berbeda. Lampu listrik, yang dihasilkan dari genset sumbangan kader partai pemenang pemilu dari Jakarta, telah mewarnai Kampung Waerebo. Namun untuk menghemat bensin yang berat dipikul, listrik hanya menyala hingga pukul 10 malam. Kami tidur dengan ditemani temaram pelita, dalam dingin dan kesyahduan sebuah di negeri di atas awan.
*dimuat di Majalah Panorama Edisi Maret 2010
Catatan kaki:
Semua pengunjung Kampung Waerebo, pasti akan melewati SD Katolik Denge yang didirikan pada tahun 1929. Pak Blasius, kepala sekolah sekaligus pengajar beberapa mata pelajaran di SD tersebut, juga mendirikan homestay Denge, rumah kayu yang dibangunnnya sendiri. Sekolah tersebut didirikan misionaris asal Belanda dan masih beroperasi hingga kini. Walau minim fasilitas, menurut Pak Blasius, beberapa “orang berhasil” pernah bersekolah di situ. Termasuk diantaranya (menurut Pak Blasius) adalah anggota DPR RI Dr. Benny K. Harman, SH, MH.

SD tertua di Denge © Suer Suryadi
Anak-anak SDK Denge © Suer Suryadi

3 Comments

Join the discussion and tell us your opinion.

dewi linareply
April 9, 2013 at 3:34 pm

amazingly beautiful….boleh tanya2 lebih detail gk, karena pengen banget k sana.
Terima kasih, Dewi

Wiwikreply
April 11, 2013 at 11:15 pm
– In reply to: dewi lina

Kalau mau ke sana kontak Martin 085239344046

Krisnarto Soekamardireply
July 30, 2013 at 11:18 am

Dearest Wiwik Mahdayani,
Dah lama pula, aku cari alamat dikau, eh jumpa disini, apa kabar, udah lama banget ngak denger kabar, sukses ya.
Ngomong2 mungkin desa Wea Rebo itu dekat dengan Kawasan yang pernah kami mohonkan dulu tahun 1988, sebagai perkebunan jambu Mente. Untung tidak jadi, karena waktu itu ada krisis moneter (kebijakan Sumarlin), jadi ngak dapet dana dari bank.
Salam sayang

Leave a reply