Sorake Telah Berubah

Sore ini, aku berdiri sendirian di tepian Pantai Sorake, memandang deburan ombak yang mengganas di depan sana dan jajaran pohon kelapa yang tak terhitung jumlahnya. Saat aku berada di sini, seperti biasa angin pantai Sorake selalu membawa kesejukan di sore hari. Peselancar mana yang tak kenal Pantai Sorake, Nias. Seluruh teman peselancarku selalu menceritakan tempat ini sebagai salah satu tempat selancar yang patut dijajal di dunia. Tepian laut, tadinya adalah tempat yang ditakuti masyarakat Nias. Diyakini bahwa pantai adalah tempat bersemayam roh-roh jahat. Sampai akhirnya tibalah peselancar asal Australia, Kevin, sekitar awal 1970-an. Masyarakat menyebutnya Kefe (yang dalam Bahasa Nias berarti uang), karena mungkin susah mengeja nama Kevin dengan lidah orang Nias. dan Kefe memang memberikan ”uang” kepada masyarakat Nias yang akhirnya mulai pindah dari desa-desa di pedalaman pulau untuk kemudian membangunlosmen di sepanjang pantai Lagundri hingga Sorake.
”Masa jaya” Nias Selatan terus berlangsung hingga 1990-an sampai akhirnya masa jaya itu menurun seiring dengan munculnya tempat-tempat selancar baru di Indonesia dan dunia. Hingga saat itu, pariwisata menjadi salah satu sektor andalan ekonomi Nias. Hampir keseluruhan obyek wisata berada di Nias Selatan, kabupaten yang baru mekar pada 2003. Tsunami dan gempa tahun 2004 dan 2005 yang menimpa sebagian kawasan Sumatera termasuk Nias telah memporakporandakan infrastruktur pendukung pariwisata serta rumah-rumah tradisional yang hancur lebur.
Bukan hanya infrastruktur dan bangunan yang rusak,  pola ombak di Nias Selatan pun telah berubah. Dua spot selancar andalan Sorake”Machine” dan ”Bawa” yang begitu dikenal seluruh peselancar menghilang, tapi justru memberikan hikmah dengan semakin menggilanya ombak yang tersisa dan menjadi tantangan lebih besar bagi para peselancar. Ombak Nias Selatan memang berbeda, tak ada tempat bagi peselancar pemula di sini. Saat ini seluruh peselancar ”berebut tempat” di ”The Point”, spot andalan yang tersisa. Peselancar yang berani uji nyali di sini harus punya kemampuan menengah dan tingkat tinggi. Akibat lainnya yang timbul adalah sebagian karang-karang yang seharusnya berada di bawah air naik ke permukaan dan menjadi bagian pantai. Aku mencoba mendekati batas antara karang yang naik itu dengan laut. Sungguh aneh, dari karang yang dialiri air laut yang dangkal, tiba-tiba langsung ”nyemplung” laut yang dalam di depan sana. Aku tak punya cukup keberanian untuk melongok ke laut dalam yang hanya tinggal beberapa langkah dariku. Hanya sedikit lahan berpasir yang tersisa di Pantai Sorake. Sebagian wilayahnya telah disulap menjadi pemukiman sekaligus homestay dan restaurant. Para weekender dari Gunung Sitoli, Teluk Dalam dan sekitarnya yang plesiran ke pantai ini biasanya hanya duduk-duduk di restaurant sekitar pantai untuk menikmati angin. Tidak ada aktivitas lain.
Anak laki-laki yang tumbuh di tepian pantai, terlihat membawa papan selancar sambil bercanda menuju laut. Kulit mereka mengkilap kecoklatan diterpa sinar matahari. Pemandangan yang akan selalu dijumpai setiap sore di Sorake. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Aku pun balas melambai. Semua sudah terbiasa dengan ”orang asing”. Sejak 1970 ketika pariwisata mulai dikenal dan menjadi sumber kehidupan masyarakat, serta berbagai organisasi dan lembaga dunia yang datang ke pulau ini untuk melakukan berbagai proyek post disaster di segala bidang kehidupan. Proyek-proyek ini telah mengubah wajah Nias. Selain mendapat bantuan pembangunan, interaksi dengan pihak luar pun menjadi lebih intensif. Perekonomian juga bergerak dinamis. Seperti yang dapat ditemui di Teluk Dalam, Ibukota Kabupaten Nias Selatan, setiap malam warung-warung yang menjamur di sepanjang jalan kota memulai aktivitasnya. Bahkan sebagian warung mulai buka sejak pagi. ”Sebelum ramai oleh berbagai proyek, jarang sekali ada yang makan di luar. Semua orang makan di rumah bersama keluarga”, kata Juang temanku ketika aku bertanya soal gemerlap lampu yang menghiasi Teluk Dalam di malam hari. Kini masyarakat dan pendatang berbaur untuk meramaikan ibukota kabupaten ini.
Aku tak bisa mencegah diriku untuk tidak membandingkan Sorake dan Lagundri dengan lokasi selancar di Kepulauan Mentawai, Bali dan Sumbawa yang juga menjadi primadona para peselancar dunia. Kecuali Bali kini, destinasi selancar selalu memberikan pelayanan dan fasilitas yang sangat minim. Akomodasi seadanya tapi menyediakan makanan kelas international dengan rasa lokal. Aku bisa menemukan berbagai menu dunia didaftar menu yang disediakan losmen di sepanjang pantai Sorake (tapi belum tentu tersedia ya). Untuk penginapan, jangan terlalu berharap banyak karena Sorake hanya menyediakan losmen bertingkat dua yang berdiri terpisah dari rumah pemilik.


Aku kembali ke losmenku seiring tenggelamnya matahari. Situasi sekitar makin gelap dan hanya menyisakan semburat jingga, berbaur dengan lampu-lampu losmen yang mulai dinyalakan. Beberapa sudut Sorake mulai bersiap untuk pesta pantai di malam hari, lengkap dengan api unggun, bir, aneka daging untuk BBQ dan perempuan.

1 Comment

Join the discussion and tell us your opinion.

arolyreply
April 4, 2011 at 6:07 pm

apakah benar,kalau pulau nias itu merupakan panti terindah setelah pantai kutai ??????????????

Leave a reply