Phobulous Taste of Pho

Aku masuk ke Koto, restoran top untuk para turis di Hanoi, Vietnam. Jam masih menunjukkan pukul 11 siang. ”Anda tidak bisa makan siang sekarang, karena kami belum melayani menu makan siang. Baru bisa pesan makan siang setelah jam 12. bagaimana kalau anda sarapan dulu?”sapa ramah pelayan menyambutku yang berniat makan siang di sini. Restoran yang pernah disinggahi Bill Clinton beserta para punggawanya ini ternyata tidak serta merta membuatku dapat menahan lapar. Makan jam11 siang tentu bukan sarapan, melainkan brunch. Setelah berbasabasi aku keluar dan memasuki restoran ”siap saji” ala Vietnam yang terletak persis di sebelah Koto, Pho 24. Aku senang dengan konsep Pho 24. Restaurant ini didirikan untuk mengangkat harkat martabat dan derajat makanan kebanyakan rakyat Vietnam untuk melawan restaurant cepat saji ala KFC dan McDonald. Terbukti memang berhasil. Hampir semua restaurant Pho24 di Ho Chi Minh atau Hanoi selalu penuh.

Aku mengenal Pho justru bukan di Vietnam. Temanku Thi Thuy, gadis Vietnam yang sudah menjadi orang Perancis yang mengenalkanku pada makanan ini. Thi justru lahir di Perancis dan belum pernah ke Vietnam karena orangtuanya mengungsi pada masa perang Vietnam. Pertama kali mencoba Pho ketika ia mengajakku ke restoran Vietnam di salah satu sudut Cours de la Marne di Bordeaux, Perancis. Thi menyebutkan, Pho adalah makanan yang bisa diterima banyak orang berbagai negara, segar, dan tidak kaya bumbu sehingga tidak menyiksa ”perut bule” seperti dirinya. Ketika teman-teman Indonesia di Paris juga mengajakku ke restoran Pho di Kawasan 13eme (treiziem) dimana restoran Asia seperti Cina, Vietnam, Laos dan Thailand menguasai ruas pertokoan, aku jadi makin suka menyantap Pho.

Ketika berkunjung ke Vietnam, aku tentunya segera ingin tahu, bagaimana cita rasa Pho di negara asalnya? Apalagi aku tergelitik oleh sabda Didier Corlou asal Perancis, juru masak paling terkenal seantero Vietnam yang juga chef di salah satu hotel bintang lima di Hanoi, menyatakan bahwa seseorang yang mengunjungi Vietnam dan tidak mencoba Pho, maka dia belumlah merasakan pengalaman kuliner Vietnam yang sebenarnya. Apalagi Didier Corlou menyatakan bahwa Pho adalah salah satu alasan mengapa ia menetap di Vietnam. Jelas saja, konon Didier Corlou bertemu istrinya yang orang Vietnam ketika makan Pho di Jalan Cua Bac, salah satu sudut Kota Hanoi.

Pho di Pho 24-Wiwik Mahdayani

 

 

 

 

 

 

 

 

Pho Pinggir Jalan di Hanoi – Wiwik Mahdayani

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Konsep hidangan ini sama dengan bakso di Indonesia atau Tapas di Spanyol. Makanan semua kalangan di tempat yang merakyat. Pho dijajakan di berbagai tempat, mulai dari dingklik plastik yang dijejer seenaknya di pinggir jalan, hingga hotel bintang lima. Pho terdiri dari mie yang berbahan dasar beras dengan kuah yang sebenarnya tidak begitu kaya bumbu. Tapi justru kekuatan Pho terletak pada kuah dan variasi dagingnya. Ada dua jenis daging yang melengkapi Pho, daging ayam (Phở Gà) dan daging sapi (Phở Bò). Daging ayam biasanya di suwir-suwir seperti yang terdapat pada Mie Sop khas Medan, sedangkan daging biasanya tergantung selera, apakah mau urat, irisan daging setengah matang atau matang, bagian lemak, atau bagian kaki, semua diiris tipis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

”Teman sejati” Pho adalah tauge mentah, bawang bombai yang diiris tipis, irisan cabe merah, daun mint, serta irisan jeruk nipis yang diletakkan dalam piring terpisah. Sebelum makan, semua teman-teman pendamping Pho ini dicampur sesuai selera ke dalam mangkuk Pho yang biasanya berukuran jumbo. Tambahan variasi pada Pho adalah cakwe dan bakso.

Pho kelas rakyat jelata biasanya terdapat di trotoar jalan-jalan di Hanoi. Bersatu dengan deru motor, debu dan dilewati para pejalan kaki. Pho pinggir jalan hanya mengenal cakwe sebagai tambahan. Bakso hanya variasi yang dikenal pada restoran kelas menengah atau hotel bintang lima.

Mie beras berwarna putih ini tepatnya berasal dari Vietnam Utara. Karena Vietnam terbagi menjadi dua wilayah, Utara dan Selatan pada 1950an, Pho juga menyebar ke arah Selatan negeri ini. Tentunya dengan perubahan pada bumbu. Menurut Huu Ngoc dan Lady Borton (2006). Konon, istilah Pho diambil dari kata Feu dalam bahasa Prancis yang berarti api. Pengucapan yang sama ketika menyebut Feu dalam bahasa Prancis dan Pho dalam bahasa Vietnam (yaitu : fe, dengan e seperti menyebut kera). Makanan Prancis yang diadaptasi oleh Vietnam adalah Pot-au-feu, hidangan yang diperkenalkan pada masa okupasi Prancis di Vietnam. Pot-au-feu merupakan sup rebusan daging dan sayur. Kemungkinan lain menyebutkan bahwa seorang koki asal Kota Nam Dinh, dimana terdapat banyak industri tekstil dengan pekerja kebangsaan Prancis dan buruh asal Vietnam. Sang koki berfikir bahwa sup adalah makanan yang bisa diterima kedua bangsa. Dengan menggabungkan mie beras ala Vietnam dan daging ala Prancis. Jadilah resep Pho yang bisa diterima perut semua orang.

Cerita lain menyebutkan Pho dibawa oleh orang-orang dari Kampung Van cu, yang diduga telah membawa makanan ini ke Hanoi untuk dijual di kota tersebut. Saat ini hampir keseluruhan pemilik usaha Pho di Hanoi memang berasal dari Kampung Van cu. Kampung yang tidak punya tradisi agrikultur sepangjang kampung lain di Vietnam Utara ini sebagian besar penduduknya merupakan perantau.

Buatku, makan Pho di pinggir jalan di Hanoi menimbulkan sensasi yang berbeda dengan makan Pho di restoran kelas menengah seperti Pho 24. Sensasi yang sama yang aku rasakan ketika makan bakso pinggir jalan dengan makan bakso dalam warung berAC.

5 Comments

Join the discussion and tell us your opinion.

Hendro Sewoyoreply
October 20, 2010 at 7:38 am

Bikin gua lapar nih..!

Wiwikreply
October 20, 2010 at 9:22 am
– In reply to: Hendro Sewoyo

Jadi ikutan lapar mas 😀

Mrs. Henwigreply
October 25, 2010 at 4:35 pm

what a great story..someday we go there together..

Adam pratamareply
December 15, 2011 at 8:58 pm

owh,,so it means pho its a bit similiar with bakso gt?? jd pgin coba 😀

Wiwikreply
December 15, 2011 at 10:14 pm
– In reply to: Adam pratama

Iya, mie beras dgn kuah spt bakso kalau di Indonesia 🙂

Leave a reply