Menyemai Cinta di Nias Selatan

“Hanya ada satu kata yang menggambarkan cinta di Nias. Dimana cinta kepada babi dan cinta kepada orangtua serta istri menggunakan kata yang sama. Tapi ada 14 kata yang menggambarkan benci. Mulai dari benci karena iri, benci hingga mau membunuh sampai benci mau membakar kampung”, kata Juang, temanku sambil mengelap keringat yang mengucur di dahinya dengan lengannya yang dipenuhi tatto. Juang Laiya, temanku, adalah putra bangsawan Nias yang cukup disegani di daerahnya. Walau lama tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, Juang memilih untuk balik kampung dan membangun Nias Selatan.
Aku datang ke pulau ini untuk cinta dan nanti akan aku jelaskan persoalan cinta ini. Walau mungkin sulit untuk mendeskripsikan cinta di Tano Niha, sebutan untuk tanah Nias. Nias tumbuh dengan luka, rasa takut dan darah. Gempa dan Tsunami yang memporakporandakan Pulau Nias di tahun 2004 dan 2005, bukan hal baru yang menimpa Pulau ini. Disinyalir bahwa gempa dan tsunami kerap terjadi pada para pendahulu masyarakat Pulau Nias. Secara historis, masyarakat Nias tumbuh dengan rasa takut. Takut akan alam dan takut akan sesama manusia. Mereka identik dengan perang yang menjadi salah satu cara penyelesaian masalah, baik masalah individu maupun kelompok. Hal ini juga dicirikan dari tarian tradisional yang selalu dimainkan warga desa. Beberapa desa di Nias dulunya bahkan mempraktikkan tradisi perbudakan. Hal ini terus berlangsung lalu terhenti dengan masuknya agama baru yang dibawa misionaris dan “modernisasi” ke Nias.
”Saat missionaris masuk ke Nias, mereka membakar dan menghancurkan peninggalan kebudayaan megalithikum di sini”, jelas Juang dengan mengutip referensi yang dibaca dari perpustakaan ayahnya saat aku menapaki batu yang dulunya juga digunakan nenek moyang masyarakat Nias. ”Masih tersisa beberapa peninggalan yang selamat”, katanya lagi.
Udara panas tak mampu menahan langkah kami menuju Desa Onohondro, Nias Selatan. Padahal hari masih pagi. Kami harus berjalan kaki kurang lebih satu jam menyusuri jalan di atas bebatuan megalith sisa-sisa peninggalan nenek moyang di masa lalu. Peluh terus menetes, padahal jalan ini dipayungi pohon-pohon besar yang rindang. Juang mengajakku untuk menjajal river trek dari Desa Onohondro ke Desa Hilinafalo Fau. Selama ini yang dikenal dari Nias hanyalah Pantai Sorake dan Pantai Lagundri tempat para peselancar mencoba ombak serta Desa Bawomataluwo, tempat tradisi lompat batu. Padahal Nias Selatan adalah tempat dimana desa-desa dengan bangunan rumah-rumah tradisional yang cukup spektakuler. Peninggalan budaya megalitkum masih terlihat di beberapa desa hingga saat ini. Sebagian besar dalam keadaan tidak terawat.
Adalah heritage trail, yaitu jalur dagang yang juga merupakan jalur damai. Jalur ini menghubungkan Desa Onohondro dan Hilinafalo Fau dan masih menggunakan batu megalitikum sebagaimana asal muasalnya. Jalur dagang adalah jalur yang dipakai untuk berdagang atau aktivitas ekonomi masyarakat di masa lalu. Jalur ini disebut jalur damai karena tidak akan digunakan masyarakat untuk berperang. Jalur inilah yang saat ini sedang kutapaki.
Desa Onohondro dan Desa Hilinawalo Fau, Perjalanan ke masa lalu

Suasana “masa lalu” terasa kental di berbagai sudut desa tradisional yang berlokasi di “pedalaman” seperti Desa Onohondro dan Hilinawalo Fau. Dari Kota Teluk Dalam, Ibukota kabupaten Nias Selatan, perjalanan ke desa-desa ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat atau motor. Angkutan umum masih sangat sulit, sehingga mengatur kendaraan sebelum keberangkatan sangat diperlukan.
Papan penunjuk sederhana memberi pertanda bahwa kami sudah tiba di Desa Onohondro. Suasana magis langsung menyergap. Merinding rasanya melihat desa dengan susunan rumah tradisional dari kayu dan tak berpaku serta satu rumah Raja (Omo Sebua) yang tiap tahapan pembangunannnya harus dibayar dengan pengorbanan darah manusia. Desa di Nias Selatan memiliki struktur dengan jalur yang tegas. Seperti di Onohondro, terdapat dua jalur susunan rumah-rumah tradisional yang dipisahkan oleh satu jalur jalan. Hombo batu, batu yang dipakai untuk lompat batu, dengan konstelasi batu-batu megalith disekitarnya turut menjadi bagian dari desa ini. Pemandangan yang mengganggu adalah jemuran dan parabola penduduk yang tidak teratur serta beberapa bagian desa yang digali untuk mendapatkan batu dan pasir untuk pembangunan jalan. Rumah-rumah ini menggunakan seng sebagai atap.
“Banyak penadah pasir untuk pembangunan jalan raya, proyek pasca tsunami” kata Juang lagi saat aku menanyakan apa yang dilakukan orang-orang dengan gundukan pasir yang diambil dari depan rumahnya. Kami mampir ke rumah Ama Sadar Hondro, kepala Desa Onohondro*. Di Nias, semua pria berkeluarga di panggil dengan sebutan Ama (Bapak), lalu diikuti dengan nama anaknya. Hampir tidak diketahui lagi nama asli karena orang selalu menyebut Bapak si anu atau Ama si Anu.
Saat akan memasuki rumah, aku memandangi figure kepala berbentuk naga, entah makhluk apa itu. “ Itu namanya Lasara. Jumlahnya ada tiga, Lasara adalah obyek sakral yang melibatkan pengorbanan manusia saat dipasangkan ke Omo Sebua. Kepala itu sebagai representasi manusia yang dikorbankan untuk pembangunan rumah. Konon, siapa yang menyentuh kepala naga itu dengan tidak hormat akan mengalami sakit, dan apabila tidak disembuhkan oleh ere (dukun Nias, seperti Sikerei di Pulau Siberut) melalui suatu upacara khusus, orang itu bisa mati”, jelas Juang sambil masuk ke dalam rumah. Entah kenapa aku tak berani memegangnya, walau dengan rasa hormat sekalipun.
Ama Sadar adalah salah satu mo’ama (keluarga) pewaris Omo Sebua. Omo Sebua, sejatinya ditempati keluarga raja/bangsawan, namun dimiliki secara komunal karena dibangun secara bergotong royong oleh masyarakat. Warga desa akan menyumbangkan tenaga untuk membangun Omo Sebua, sedangkan keluarga bangsawan berkewajiban membiayai seluruh upacara adat dan memberi makan seisi kampung. Kejayaan seorang bangsawan akan dilihat dari kemampuannya memberi makanan ini. Omo Sebua bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal tapi juga sebagai pusat desa yang dapat dimanfaatkan seluruh warga, mulai dari menjamu tamu dari kampung lain, pelaksanaan perkawinan, hingga forum adat masyarakat desa (orahua). Seluruh pusaka desa akan dititipkan di Omo Sebua, mulai dari perlengkapan ritual keagamaan sampai alat-alat perang dan kesenian. Omo Sebua yang tidak dititipi pusaka desa akan terasa hampa tak bernilai.
Ama Sadar tidak tinggal di Omo Sebua. Setelah gempa 2005, Omo Sebua ini nyaris rubuh karena lapuknya kayu-kayu penopangnya. Masyarakat sendiri sudah bergotong royong untuk membuat atap dari daun sagu agar bangunan untuk sementara tidak rubuh karena panas dan hujan. Tidak ada lagi yang tinggal di situ. Padahal, Omo Sebua di Onohondro adalah satu dari empat Omo Sebua yang masih tersisa di Pulau Nias.
Ama Sadar begitu memahami sejarah kampungnya. Kisah sejarah desa dan adat istiadat masyarakat keluar dengan lancar dari bibirnya yang berwarna karena sirih. Aku jadi ingat para ibu penenun di Flores yang juga menyukai sirih, warna bibir mereka seperti bibir Ama Sadar. “Renovasi Omo Sebua akan sangat mahal, kami sudah hitung-hitung, akan butuh dana sekitar 2 Milyar untuk renovasi, karena sudah buruk sekali. Itu untuk bahan dan upacara adat. Apalagi harga babi sekarang sudah naik”, jelasnya tenang sambil menunjukkan benda-benda pusaka yang seharusnya disimpan di Omo Sebua, mulai dari patung, senjata tajam hingga aksesoris untuk wanita. “Material sudah tidak ada di daratan Pulau Nias, harus cari ke Kepulauan Batu”, tambah Juang sambil menyebutkan nama kepulauan di arah Tenggara Pulau Nias. “Itu sebabnya biaya renovasi menjadi sangat mahal”, jelasnya lagi. Masalah klasik bangunan tradisional Indonesia. Material selalu menjadi tantangan untuk memperbaharui atau memperbaiki bangunan.
River Trek dan Swimming holes
Seperti yang dijanjikan Juang, kami memulai river trek setelah menjemput Jimmy, salah satu pemuda Desa Onohondro yang juga mengenal baik lokasi river trek tersebut. River trek ini menghubungkan dua desa, Onohondro dan Hilinafalo Fau. Pemandangan masih biasa ketika kami melewati jembatan “masa kini” Sungai Gomo. Kebun penduduk bersatu dengan hutan, dengan blok-blok batu megalith sebagai jalan setapak buat kami. Begitu tiba di hulu Sungai Moru, sungai yang mengalir di desa Onohondro dan Hilinafalo Fau, kami seperti putus hubungan dengan dunia luar. Apalagi ketika tiba di sungai Sihugu-hugu yang mengalir di desa Hilinafalo Fau. Sungai-sungai dangkal dan berbatu, dengan begitu banyak swimming hole (istilah yang aku baca di brosur-brosur pariwisata Australia Barat), yang bisa dipilih untuk melepaskan hasrat basah-basahan bermain air dan berenang. Beberapa swimming hole ini agak dalam, jadi harus sedikit hati-hati. Puas bermain air, kami naik ke daratan dan menembus kebun masyarakat untuk menuju desa Hilinafalo Fau.

Dengan semangat, Jimmy menunjukkan bunga-bunga dan buah-buah liar yang disebutkan nama lokalnya. “Ini untuk membungus babi kalau ada upacara besar di desa”, katanya lagi dengan semangat sambil menunjukkan padaku pelepah daun palem yang luar biasa besar. Sebelum memasuki desa, kami melewati persawahan, sayangnya sudah melewati musim panen, sehingga keindahan sawah ini cuma ada dalam bayanganku. “Ini Hele Balolala”, teriak Juang sambil dia menyusul Jimmy yang sudah menuju pancuran alami dengan dua mulut. Aku jadi teringat pancuran air di Pura Tirta Empul, Istana Tampak Siring, Bali. Hanya saja di Bali punya lebih banyak mulut air.
Pancuran ini sendiri juga terbuat dari batu-batu megalith. “Sehabis berperang, orang-orang akan membersihkan diri dulu di sini, setelah itu duduk di tangga yang menuju desa untuk membersihkan senjata mereka dari darah”, kata Juang sambil menunjuk anak tangga menuju Desa Hilinawalo Fau. “darah perang tidak boleh masuk ke dalam desa”, katanya lagi. Tempat ini menjadi “hidup” dengan cerita yang keluar dari mulut Juang. Demikian semangatnya Juang bercerita, seolah-olah ia mengalami sendiri semua kejadian yang diceritakannya padaku. Juang selalu memakai referensi, dan aku seperti mengikuti kelas sejarah dan budaya Nias ketika berjalan dengannya.
Tidak jauh beda dengan Desa Onohondro, Desa Hilinawalo Fau juga terdiri dari susunan rumah tradisional dari kayu dan memiliki pemisah berupa “jalan desa yang berbentuk garis lurus”. Bedanya di Hilinawalo Fau terdapat lapangan dengan sususan batu megalith yang merupakan struktur paling lengkap di Nias Selatan. Di sini masyarakat biasa menggelar tarian tradisional dan acara-acara komunal. Hilinawalo Fau memiliki sanggar desa yang menampilkan tarian dan musik. Penduduk secara swadaya membuat alat musik dengan bahan-bahan yang diambil dari hutan. Menurutku, Hilinawalo Fau sangat indah, mungkin karena lebih bersih, rumah-rumah kayu terawat rapi dan memiliki struktur yang lebih lengkap dibanding Onohondro. Orang-orangnya juga lebih “kalem”.
Juang menantangku untuk melakukan river trek dari Hilinawalo Fau kembali ke Onohondro melalui jalur lain, dan aku terlalu bersemangat untuk menolak. “Ada 4 sungai yang harus dilewati, gimana?”, tanyanya mencoba meyakinkanku. Aku mengangguk mengiyakan walaupun Juang sudah memberitahu tingkat kesulitan pada trek kedua ini lebih tinggi daripada jalur pertama. Sungai yang harus kami lewati adalah Amondria Molo, Jumali Sihite, Gomo (dengan jalur yang berbeda), dan berakhir di Jumali, sungai yang berada tepat di bibir Desa Onohondro. Sungai Amondria Molo benar-benar biasa saja, tidak begitu sulit. Aku bisa berjalan santai di tengah airnya yang dangkal. Lebih banyak batu-batu licin yang tidak mungkin ditapaki. Aku sempat terjatuh di salah satu bagian sungai karena tidak berhati-hati dengan batu yang licin. Begitu tiba di Jumali Sihite, Juang ternyata tidak main-main dengan ucapannya.

Aku begitu terpukau dan terpana melihat derasnya aliran sungai di depanku. Di ujungnya, membentuk bebatuan yang terlihat seperti air terjun mini. Di bawahnya, lagi-lagi ada swimming hole yang jelas sangat dalam. Aku tidak berani melalui rintangan yang satu ini. Pilihan cuma satu, memanjat tebing di sisi sungai untuk melewati air terjun mini itu. Memanjat tebing ini pun tak semudah yang dibayangkan. Aku harus ditarik oleh Jimmy agar bisa melalui batang pohon tumbang ke tepian tebing. Sampai di Sungai Gomo, sedikit lebih tenang, hanya saja lebih dalam dengan air sebatas paha dan berlumpur. Kami harus melalui tepian sungai Gomo yang berbatu-batu besar sebelum akhirnya sampai di Sungai Jumali. Sungai yang airnya berwarna hijau ini benar-benar dalam. Penduduk desa sering datang ke sini untuk berenang. Padahal, Sungai ini digunakan untuk membuang patung kepala harimau yang digunakan pada Famadaya Harimau, upacara untuk memuja para leluhur dan membuang kejahatan seluruh desa. Kepala harimau inilah yang dibuang ke sungai Jumali. Dengan “membuang” kejahatan seluruh desa kedalam kepala harimau tersebut diyakini akan membersihkan desa dari segala bala. Upacara ini masih dilaksanakan masyarakat Onohondro sampai sekarang.


Aku masih harus memanjat tebing lagi untuk mencapai bibir Desa Onohondro. Tebing ini tidak terlalu tinggi, hanya agak datar dan licin. Alam Nias betul-betul memberkati kami, setelah mencapai bibir Desa Onohondro, hujan turun dengan derasnya. Istri Jimmy sudah menyediakan teh dan kopi panas, serta pisang dan tahu goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Betul-betul anugerah ditengah lelah dan kehangatan setelah mengeringkan badan. “Kau temukan kah cintamu di Nias?”, tanya juang sambil menyeruput kopinya. Sepertinya aku tak perlu menjawab pertanyaan Juang. Aku menemukan cintaku di sini. Jauh dari hingar bingar Pantai Sorake. Cinta pada alam dan kekayaan budaya Nias yang tak terbatas.
*Ama Sadar Hondro saat ini sudah tidak menjabat kepala desa Onohondro lagi.