Menyapa Ratusan Burung di Hutan Bakau Klong Khon

Tepat pukul 3 siang, kami tiba di Klong Khon setelah menempuh 1,5 jam perjalanan dari Bangkok. Kami di sambut oleh Phi Phritt, penduduk Klong Khon yang mendedikasikan hampir separuh hidupnya sebagai nelayan. Sejak kunjungan wisatawan booming ke daerah hutan bakau Klong Khon, Phi Pritt alih profesi menjadi pengusaha wisata dengan menyediakan 4 kamar homestay, perahu untuk tour dikawasan bakau, dan Kra Teng, rumah panggung di tengah lautan dan hutan bakau yang disulap menjadi tempat makan dan kamar untuk yang ingin menikmati tidur di tengah hutan bakau.

“Sawadee kap..”, sambut Phi Phritt dengan ramah. Pria paruh baya yang berkulit hitam legam ini tak dapat berbahasa Inggris satu patah pun. Sambil terus berbicara, ia menyerahkan life vest jacket satu persatu kepada kami. Phi, adalah panggilan sopan untuk lelaki yang lebih tua. Phi Phritt meminta kami naik ke perahu motor yang sudah disiapkannya. Sambil memutar kapalnya Phi Phritt menunjuk seekor biawak yang sedang menyeberang di air. Kaewta rekanku, sibuk menerjemahkan setiap kata yang diucapkan Phi Phritt tanpa henti. Perahu kami mulai berjalan melewati perumahan para nelayan lain, beberapa homestay dan kapal-kapal yang sibuk hilir mudik melewati kami. Perjalanan kami kali ini dianugerahi cuaca cerah.


Tiba di ujung hutan bakau yang cukup asri, Phi Phritt mulai membelokkan perahunya. Suara motor perahu yang bising tiba-tiba dimatikan dan ah, ternyata ia mau menunjukkan satu, dua, dan puluhan monyet yang tiba-tiba keluar dari rimbunnya bakau dan duduk di antara dahan-dahan, memandangi kami dengan tatapan penuh harap. “Hey!!There is no food for you, you should find yourself!!” teriakku. Walau begitu, monyet-monyet itu tidak agresif menyerang perahu kami  yang berhenti di tengah hutan bakau yang sunyi senyap itu. Kami memberitahu Phi Phritt yang mendengarkan dengan penuh seksama, bahwa monyet tidak boleh diberi makan oleh manusia karena akan menjadikannya agresif dan mempermudah transfer penyakit antar keduanya karena “hubungan kekerabatan” yang dekat.

Hutan bakau Klong Khon benar-benar kawasan yang lestari. Hampir sepanjang perjalanan kami melihat berbagai jenis burung yang menyapa kami mulai dari si cantik Raja Udang (Kingfisher), belum lagi kepiting bakau dan ikan rawa (mudskipper). Klong Khon, yang terletak sekitar 75 km dari Kota Bangkok tersebut nyaris menjadi no man’s land di masa lalu. Klong Khon sendiri adalah district yang terletak di Propinsi Samut Songkhram, menempati salah satu kawasan di bagian teluk Thailand. Sebagian besar arealnya adalah wetland, kawasan pesisir yang dipenuhi hutan bakau dengan hampir 95% penduduknya adalah nelayan.  Sekitar tahun 1984, kegiatan budi daya (baca: tambak) udang menjadi booming dan mengakibatkan hutan bakau di kawasan pesisir tersebut rusak berat. Hutan bakau yang tadinya mencakup 27,000 rai menurun menjadi 800 rai akibat kegiatan tersebut (Rai adalah sistem pengukuran yang digunakan di Thailand, 1 rai = 1600 meter persegi). Pada akhir 1989, kerusakan kawasan semakin diperparah oleh polusi air akibat kegiatan budidaya yang dilakukan terus menerus secara intensif.
Salah satu kepala desa di kawasan tersebut, Puyai Chong berinisiatif untuk melakukan penanaman kembali hutan bakau yang telah rusak. Klong Khon Community Manggrove Conservation Programme digagas untuk mendukung penanaman kembali bakau di areal yang telah rusak. Usahanya terhitung gagal dalam 3 tahun pertama karena minimnya dukungan. Usaha Puyai Chong berbuah manis ketika pemerintah akhirnya turun tangan membantu usahanya. Salah satu dukungan diberikan Putri Kerajaan Thailand Yang Mulia Sirindhorn ketika beliau menanami langsung benih bakau di kawasan tersebut sebanyak empat kali dalam kurun waktu 1997 sampai dengan 2003.

Saat ini, selain sebagai outing, camping, dan tempat liburan akhir pekan bagi masyarakat Bangkok, kegiatan penanaman kembali bakau sebagai bagian dari CSR (Corporate Social Responsibilities) di kawasan ini menjadi primadona bagi berbagai perusahaan yang ada di Bangkok dan sekitarnya.
“Di sini ada 5 jenis bakau”, kata Phi Phritt menjelaskan dengan penuh semangat. « Untuk program penanaman kembali, ada 4 jenis bakau yang ditanam… », katanya sambil menunjuk satu persatu nama bakau yang dimaksudnya dalam Bahasa Thailand. Di beberapa titik, Phi Phritt menghentikan mesin perahunya dan membiarkan kami menikmati burung-burung yang sibuk beraktivitas di tengah ketenangan sekitar.
Phi Phritt cukup mengerti kawasan sekitar dan kami betul-betul menikmati setiap penjelasan yang keluar tanpa henti darinya. Matanya berbinar-binar setiap kali menunjukkan sesuatu pada kami. Seperti ketika ia berhenti di tengah beberapa Kra Teng dan menyodok bagian dasar tepi laut dengan jala yang panjang. Dengan penuh semangat ia mulai mengangkat jala panjang, menggoyang-goyangkan lumpur didalamnya dan menunjukkan hasilnya pada kami. « Woooow !!!! » , teriak kami melihat hasil tangkapan jalanya. Puluhan kerang yang dikorek begitu saja didasar perairan tersebut terlihat pasrah berada di jala Phi Phritt. Kami mencoba melakukan hal yang sama dengannya. Hasilnya tak bisa sebanyak yang ditangkap Phi Phritt.
Berbagai kegiatan budidaya cukup ramai menempati kawasan berair payau ini. Air payau, yang merupakan habitat dari hutan bakau, memiliki kadar garam (salinitas) yang lebih tinggi daripada air tawar, tapi lebih rendah daripada air laut. Hal ini terjadi karena pertemuan air tawar dan air laut.
Masih dengan semangat,  Phi Phritt membawa kami ke lokasi budidaya tiram. Ia menunjukkan ikatan tali tempat pengembangbiakan tiram. “Satu bagian bisa dihuni 4-5 tiram”, katanya sambil keluar dari perahu, dan mengambil salah satu ikatan tali yang sedang dihuni tiram-tiram berbagai ukuran. Phi Phritt mengambil salah satu, membuka dan menunjukkan isinya pada kami. Ukuran tiram di sini lebih kecil dari pada tiram-tiram yang dihasilkan wilayah pesisir Perancis seperti Tiram Archachon dan Tiram dari wilayah Normandy. Di Perancis, tiram dimakan mentah-mentah dengan perasan lemon segar, ditemani roti, keju dan anggur putih. Di Thailand, tiram dimakan dengan bawang goreng dan daun berbentuk batangan hijau panjang yang baunya seperti pete.
“Oh ya, Burung itu sering berenang masuk ke dalam air”, kata Phi Phritt sambil menunjuk burung yang hinggap di tonggak kayu yang terpancang dibagian pinggir “peternakan” tiramnya. “Mereka tidak bermusuhan dengan tiram-tiram ini”, katanya lagi sambil mengarahkan perahunya ke salah satu Kra Teng.

Kra Teng, rumah panggung yang terbuat dari bambu dan dibangun di tengah perairan, sejatinya berfungsi sebagai tempat transit para nelayan dalam menjalankan tugasnya. Phi Phritt dan penduduk yang “bermain” di wilayah pariwisata, “menyulap” Kra Teng menjadi tempat makan yang juga dilengkapi kamar tidur. Aku sedikit bertanya-tanya, siapakah gerangan yang mau menginap di kawasan bakau yang biasanya ramai serbuan nyamuk? Tapi aku tidak menanyakan ini pada Phi Phritt.



Kami berhenti di sebuah Kra Teng yang berdiri bertetangga dengan Kra Teng lainnya. Di Kra Teng itu ada sebuah meja makan dan kursi, puluhan botol air mineral dan …… makanan yang terhidang benar-benar menggugah selera. Walaupun masih agak sore untuk makan malam, tapi tak satupun dari kami yang keberatan untuk makan lebih awal. Udang goreng, kerang rebus, kepiting rebus, tom yam seafood dan ikan pedas dengan kuah lemon sangat menantang untuk diselesaikan. Phi Phritt mohon diri untuk kembali ke rumahnya dengan alasan ada tamu yang harus diantar. Walau menurutku, sebenarnya itu cuma alasan untuk membiarkan kami makan dengan lebih tenang. Salah satu staff Phi Phritt melayani kami. Saat kami makan, perempuan muda yang membantu melayani kami duduk jauh untuk memberikan waktu bagi kami “menyelesaikan” semua yang ada di meja.


Hari menjelang maghrib ketika Phi Phritt mengajak kami kembali. Klong Khon ternyata masih belum menyudahi pesonanya. Sebelum masuk ke bagian kampung, kami disuguhi pemandangan yang sungguh aduhai. Puluhan bangau putih tengah bercengkrama dengan memamerkan suara yang berisik, menantang siapa saja untuk melihat, memperhatikan dan membidik dengan kamera. Sedikit sulit, karena walaupun Phi Phritt menghentikan perahu, goyangan air sedikit menyulitkan pandangan. Perjalanan ini betul-betul dianugerahi, hari yang begitu cerah, tiba-tiba turun hujan deras saat kami menaiki tangga rumah Phi Phritt untuk menyudahi perjalanan hari itu.

Info: Harga paket makan di Kra Teng 650 Baht/pax, Tour dan Makan di Kra Teng 1000 Baht/pax, paket menginap termasuk tour dan makan 3 kali 1500 Baht/pax (1 Baht=Rp.300)

Share your thoughts