Menyambut Sang Mentari di Borobudur

Pagi itu, di luar kamar Manohara, jangkrik dan teman-temannya berpesta pora dan berteriak-teriak seperti mengejekku yang harus bangun lebih awal dari biasa. Rasanya seperti baru saja mendapat welcome drink wedang jahe dan kue tradisional yang luar biasa nikmat tadi malam. Dingin AC bercampur dingin pagi memaksaku bersiap menuju Borobudur pagi ini.
Manohara adalah nama hotel tempat aku menginap. Terletak di dalam kompleks Candi Borobudur, memberikan kemudahan akses menuju Borobudur, terutama yang ingin menyambut matahari terbit di bangunan peninggalan Dinasti Syailendra itu. Aku dan beberapa peserta penikmat matahari terbit lainnya, sudah bersiap-siap di lobby hotel. Aku memeriksa tasku, memastikan senter dan air minum yang disediakan oleh penyelenggara tour sudah ada di situ.
Pihak hotel menyediakan bis menuju halaman pelataran Candi Borobudur. Berjalan kaki juga bisa menjadi pilihan. Hanya butuh kurang dari 5 menit mencapai pelataran tersebut. Tepat pukul  05.15, kami sudah berada di depan tugu batu bertanda tangan mantan Presiden RI Suharto, dan memuat nama berbagai Negara yang turut berkontribusi dalam pemugaran Candi Borobudur. Candi yang dianugerahi status Warisan Dunia untuk bidang Budaya dari UNESCO ini menerima bantuan dari berbagai negara dan pihak swasta dan kemudian diresmikan oleh Presiden Suharto pada tahun 1983 setelah pemugaran keduanya.







Samar-samar, terlihat Borobudur yang megah dengan latar belakang langit yang masih gelap gulita. Walaupun samar, candi ini tetap terlihat agung ditengah temaram cahaya pagi. Sinar lampu disekelingnya pun tak mampu melampaui kemegahannya. Manapaki Borobudur di tengah kegelapan dan hanya berteman cahaya senter membuat langkahku tak terkendali mendaki puluhan anak tangga. Setelah sibuk berkeliling, naik turun, aku memilih untuk duduk menghadap arah timur yang membuat pandanganku bebas mengarah ke matahari yang pelan-pelan muncul. Sunyi senyap,  aku tak mendengar suara apapun kecuali detak jantungku sendiri. Dinginnnya udara pagi mulai menghangat, seiring munculnya mentari pagi dengan semburat sinar jingganya yang pelan mekar menerangi sekitar. Memperjelas siluet dua gunung Merapi dan Merbabu di kejauhan.

Di banyak tempat di wilayah Asia Tenggara, masyarakat selalu berimajinasi dengan berbagai bentukan alam dan mengaitkannya dengan folklore setempat. Hal ini juga terjadi di sekitar Candi Borobudur. Para pemandu akan selalu bercerita tentang bentuk hidung, tangan bersilang dan tubuh terbaring Gunadharma yang sedang tidur menjaga hasil karya ciptanya pada Bukit Menoreh yang membentengi Selatan Candi ini.
Borobudur di pagi sunyi ini membuat kunjungan lebih khidmat, jauh dari garangnya sinar matahari di ubun-ubun yang mengharuskan pengunjung memakai topi atau payung, teriakan cerita para pemandu, canda tawa pengunjung yang mencari “good luck” dengan mencoba menyentuh Sang Budhha di salah satu stupa, serta ramainya hiruk pikuk pengunjung dari seantero nusantara dan dunia. Borobudur di pagi ini begitu damai dan membuatku bebas menikmati kemegahan 72 stupa dan kisah hidup sang Buddha di sepanjang 3000 m reliefnya. Para pencari mentari pagi di Borobudur jelas tak seramai pengunjung biasa di siang hari.




Aku membayangkan seperti apa lingkungan sekitar borobudur pada zamannya. Tentu masa itu tidak ada pelataran parkir bis-bis besar, loket pengunjung maupun labirin souvenir dan warung makan. Walau begitu, Tuhan telah menciptakan begitu banyak manusia kreatif dengan tangan-tangan dan isi kepala yang akhirnya bisa mewujudkan blok-blok berisi kisah sang Budha ini.
Candi Borobudur sendiri memiliki catatan kelam sebelum dikenal banyak orang. Kepercayaan yang beredar konon mengatakan bahwa Candi Borobudur adalah tempat roh jahat bersemayam dan akan membawa nasib buruk bagi yang melihat. Dalam Babad tanah Jawi disebutkan Ki Mas Dana yang memberontak melawan Raja Amangkurat III diserang di bukit di sekitar Borobudur. Babad Mataram juga menyebutkan bahwa seorang pangeran menderita sakit parah setelah melihat bangunan “ribuan stupa”. Sejarah Candi Borobudur berubah cerah ketika pada 1814, Sir Thomas Raffles, yang menemukan candi tersebut terkubur dalam keadaan hancur, kemudian memerintahkan HC Cornelis untuk menyelidiki lebih lanjut bangunan temuannya. Perlu waktu hingga 21 tahun kemudian untuk candi tersebut benar-benar ditemukan sehingga bisa dilihat lebih jelas, dan 50 tahun berikutnya barulah Candi Borobudur dapat dilihat secara keseluruhan dengan ditemukannnya bagian dasar candi. Pemerintah Kolonial Belanda memulai restorasi dan rekonstruksi bangunan Candi untuk pertama kali. Restorasi kedua dilakukan oleh pemerintah Indonesia bekerjasama dengan UNESCO yang berhasil menggalang dana dari berbagai negara, hingga menjadi Candi Borobudur yang saat ini bisa dilihat penduduk sejagat.
Pukul 07.00 pagi matahari sudah memancarkan sinar garangnya, bersaing kemegahan dengan Candi Borobudur yang semakin terlihat agung diterpa sinarnya. Pelataran halaman candi mulai ramai oleh orang-orang yang siap menangkap rejeki hari ini. Aku berjalan menuju restauran hotel untuk menikmati sarapan pagi. Duduk di meja dengan pemandangan terbaik ke arah Candi Borobudur, aku menikmati teh hangat dan teman-temannya untuk mengakhiri pagi yang indah ini.

Share your thoughts