Mengintip Rumah Tuo Agoy, Sikerei dari Kampung Malagasat, Pulau Siberut*

Sambil mengucek-ngucek mata, aku terbangun dengan sedikit terkejut. Petugas mengumumkan melalui pengeras suara bahwa kapal telah bersandar di Mailepet, Siberut Selatan. Aku langsung menatap keluar jendela kapal, sedikit tak percaya dengan pandanganku. Déja vu!aku jadi teringat lansekap Pulau Rinca di Taman Nasional Komodo, Flores. Yang kulihat adalah hamparan hutan bakau bersanding kontras dengan birunya langit pagi yang cerah di Siberut. berangkat dari Pelabuhan Bungus, Padang, dengan menumpang kapal KM. Ambu-ambu sejak tadi malam, kapal tiba di Siberut pagi ini setelah membelah gelombang lautan. Begitu keluar kapal, aku juga harus membelah gelombang lautan manusia yang “menyambut” di dermaga.
Perjalanan 10 jam di lautan disambung dengan ojek sekitar 15 menit ke Muara Siberut,  “pusat kota” Siberut Selatan, melalui jalan becek dengan lubang di sana sini. Sulit buat saya menyebut Muara Siberut sebagai kota. Muara Siberut  terdiri dari banyak jalan berbentuk blok-blok yang satu sama lain terhubung ke sebuah lapangan bola. karena kecil dan pasar sebagai pusat orientasi wilayah, Kita tak akan tersesat di sini. Penduduk Muara Siberut merupakan bauran antara suku minang, batak, dan mentawai. Aku tak dapat membayangkan, bagaimana minang dan mentawai dapat berbaur, orientasi budaya dan agama yang berbeda tentu bukan hal yang mudah bagi dua kelompok suku ini. Orang Minang lebih mendominasi Muara Siberut yang terletak dekat pesisir pantai. Mereka kebanyakan berdagang di pasar. Orang Mentawai yang hijrah ke pesisir, harus ikut memakai baju dan hidup layaknya masyarakat biasa di situ. Masyarakat Minang tentu sulit menerima orang Mentawai dengan segala atributnya:makan babi dan monyet, kabit (celana orang Siberut), tato, dan panah beracunnya. Atas nama pembangunan dan modernitas, tak berpakaian akan dianggap « terbelakang dan tidak maju». Aku jadi teringat dua novel lawas karya penulis minang, “Depok, Anak Pagai” karya A. Damhoeri dan “Mentawai, Pulau Darah” karya HN. Arifin yang menceritakan kisah cinta suku asli Siberut yang tak beragama dengan orang Minang yang kuat islamnya.
Pagi itu, aku melihat begitu banyak penduduk lokal yang sedang sarapan pagi, berbelanja atau siap-siap mengarungi hulu (sebutan ke pedalaman pulau). Pasar di sini menyambut barang-barang segar yang dibawa dari Padang, suasana yang begitu dinamis. Lidah dan perutku merasakan lontong sayur khas Minang dengan kuah santan yang kental, pedas dan kaya bumbu di salah satu sudut pasar pagi itu. Ini déjà vu kedua, sarapan pertamaku di New Delhi, India juga di salah satu sudut pasar tradisional dengan menu kari, martabak dan Tchai.
Pariwisata = Ada Hotel dan Toilet
Temanku Yosef Napitupulu, Direktur dari Perkumpulan Siberut Hijau (PASIH) mengajakku menjajal paket ekowisata mereka ke kampung tradisional dan pulau-pulau kecil di Siberut bagian Selatan. Aku bertemu Yosef dan Tupak, abangnya, dalam suasana santai pada malam hari sebelum bertolak ke hulu. Berperawakan sedang dan berkulit agak gelap khas pulau, Yosef terlihat selalu ceria dalam setiap suasana. “Bagaimana Mbak, enak tidur, enak makan?”, katanya sambil mengisap rokoknya dalam-dalam dengan sedikit memperlihatkan kekhawatiran. “Ah…aman itu..”, jawabku dengan santai. Yosef adalah generasi kedua dari suku batak yang menempati Pulau Siberut. Ayahnya adalah suku Batak pertama yang datang ke Pulau itu sebagai misionaris dan mengajarkan agama. Yosef dan Tupak, selalu memfasilitasi kedatangan kru film dokumenter dari luar negeri yang mendokumentasikan kehidupan suku asli mentawai. Bang Tupak sangat “sadar layananan”. Di tengah hutan dia mampu menyajikan bir dingin dan spaghetti permintaan para kru film. “maaf ya, saya tidak bisa ikut ke Malagasat”, kata Bang Tupak menyebut kampung tradisional di hulu sungai yang menjadi tujuan kami. “ Jangan kaget dengan situasi di sana. babi di mana-mana dan ga ada hotel”, jelasnya. Aku tak habis fikir, bagaimana mungkin dia mengira aku mengharapkan hotel in the middle of nowhere begitu?.
“Sebenarnya saya sedikit khawatir dengan situasi di Mentawai saat ini. Banyak orang sudah melupakan kebudayaannya. Jangan-jangan, uma (rumah tradisional Siberut) sudah tidak bisa saya lihat 10 tahun mendatang”, katanya memperjelas usaha re-settlement yang pernah gencar dilakukan pemerintah sejak 1975-an. Suku asli Siberut yang tinggal di dalam hutan “direlokasi” ke tempat yang dianggap “lebih layak dan tidak terpencil”. Buatku, Yosef dan Bang Tupak lebih seperti orang Mentawai daripada orang Batak. Semalaman Bang Tupak menceritakan pengalamannnya membawa kru film ke Kampung dan hutan di hulu sungai. Mulai dari kegembiraan masyarakat di kampung dengan “makanan kota yang dibawa”, berbagi rokok, hingga diseruduk babi saat ke toilet. Bang Tupak menutup perbincangan kami sambil berkata, “hati-hati kalau ke toilet ya”,   katanya sambil tersenyum. Sebenarnya, ketika Bang Tupak menyebut kata toilet, aku sedikit bertanya-tanya, seperti apakah gerangan toilet versi kampung tradisional di Siberut?.
Membelah Gelombang Sabirut dan Sarireket
Setelah menghabiskan waktu semalam di Muara Siberut, kali ini, giliran aku dan teman-teman membelah gelombang Sungai Sabirut hingga Sarireket untuk menuju Malagasat. Orang Siberut selalu berorientasi pada Sungai dalam kehidupannya. Kampung tradisional akan selalu dekat dengan sumber air.
Hutan bakau dan sengatan matahari langsung menyergap begitu kapal kami mulai mengarungi sungai. Aku terkesiap begitu melewati ceruk sungai yang sempit dengan pohon nipah di kiri kanan. Jalurnya pendek, tapi pemandangan serupa dijual di Vietnam dengan tajuk “Ekowisata di Delta Mekong”, yang berhasil menarik ribuan wisatawan asing yang berkunjung ke Ho Chi Minh City. Saat bersampan di Delta Mekong itu, aku sedikit mencibir dan berkata dalam hati bahwa zamrud khatulistiwaku punya yang lebih indah, tapi aku harus mengakui bahwa mereka sudah berhasil menjual sesuatu yang tak lebih indah dari yang ada di negeriku.








“Pohon pisang itu penanda tempat ini dekat kampung”, suara Yosef memecah lamunanku. Sungai ini sedikit tidak biasa bagiku. Di bagian kiri adalah hutan tapi di bagian kanannya perkampungan dan kebun penduduk. Aku merasakan denyut nadi kehidupan yang diberikan air Sungai Sabirut yang berwarna kecoklatan itu bagi orang-orang di sekitarnya. Sampan-sampan yang hilir mudik, perempuan yang mengambil air, mandi dan mencari “ikan kecil” di sungai. Begitu cerahnya hari, tiba-tiba hujan mengguyur, cerah, dan hujan lagi. Di beberapa titik kami harus berhenti, sungai sedikit kering karena kemarau. Beberapa kali sampan kami terhenti di bebatuan atau menyentuh dasar sungai. Kami berhenti di Kampung Madobak untuk makan setelah 3 jam berperahu. Tentu saja dengan bekal nasi padang yang pedas dan kaya bumbu. Yosef ingin menunjukkan Kampung Ugay padaku, dengan berjalan kaki, kami menyusuri jalan hasil program PNPM dari Madobak ke Ugay. Aku harus berhati-hati, jalan ini licin seperti kamar mandi basah yang tidak pernah disikat. “Bagaimana penduduk yang bertelanjang kaki bisa berjalan di jalan ini?”tanyaku. Masyarakat di perkampungan tidak terbiasa menggunakan alas kaki. “Ya agak sulit, kalau hujan licin dan kalau terik jadi panas”, jawab Yosef. Program PNPM memang berbeda efeknya di tiap tempat. Masyarakat sekitar Tangkahan di Taman Nasional Gunung Leuser, membangun jembatan untuk mempermudah akses ke berbagai kampung dan gorong-gorong untuk mencegah banjir melalui program PNPM. Hasilnya tentu sangat membantu.
Yosef menunjuk kebun coklat, yang menjadi primadona baru di Siberut. “Nasib hutan sagu di sini sama seperti di Muara Siberut, sudah berganti dengan hutan coklat”, jelasnya. Kami menyambung perjalanan kembali ke Malagasat dengan perahu. Tiba di Malagasat, kami disambut babi ketika turun dari perahu. Aku mencoba membayangkan Miss Piggy yang sexy di serial Muppet show. Sambil menatap babi-babi itu dengan waspada, aku berjalan melalui jalan berlumpur yang menenggelamkan kakiku sampai semata kaki. Tanah lempung dan selalu basah bukan hanya ditemukan di Malagasat, tapi di seluruh Siberut. Lempungan tanah yang basah itu, membuatku bingung memilih jalan, akhirnya dengan pasrah aku memijak beberapa batang pohon yang bisa sedikit mendamaikan kakiku dengan lumpur. Sambil senyum-senyum, aku berfikir bagaimana caranya mengajak teman-temanku yang beralas kaki Jimmy Cho atau Christian Laboutain ke sini. Tak sampai 5 menit, aku sudah tiba di depan uma, rumah panggung tradisional terbesar di Malagasat yang membuatku terpana. Rasa lelah sirna dan aku melupakan lumpur yang menggumuli kakiku.
Rumah Tuo Agoy
Uma itu terlihat samar-samar ditemaram senja yang mulai beranjak gelap. Suara gemericik aliran air di depan uma bersaing dengan suara nyamuk dan teman-temannya di telingaku. Uma itu berupa rumah panggung dengan tangga sangat stabil terbuat dari batang pohon yang diberikan cerukan untuk tempat menginjak. Ketika memasuki uma, aku menatap heran pada kuali besar yang menghitam di dinding depan. “Masyarakat memandang tinggi nilai kuali”, bisik Yosef sambil tersenyum, menjawab keherananku. “Kuali digunakan sebagai mas kawin, dan alat untuk menunjukkan kebanggaan diri”, tambahnya.
Di kampung ini hanya ada 4 rumah. Rumah yang aku datangi bersama Yosef adalah rumah paling besar milik Tuo Agoy, sikerei (dukun) senior di sini. Kampung ini sedikit berbeda bagiku, jauh dari sumber air. Konon katanya seluruh penduduk Malagasat adalah tukang tenung yang diusir dari Ugay, kampung sebelah. Memasuki rumah, aku lebih terpana lagi. Ruangan pertama adalah dapur, lengkap dengan berbagai ornamen seperti bakul, jaring, dan berbagai perlengkapan masak seperti display di museum etnografi. bagian kedua, adalah ruangan luas yang berfungsi sebagai tempat berkumpul, makan dan tidur. Di sini, tengkorak monyet, babi, burung digantung mengelilingi bagian atas rumah. Aku melihat gendang yang terbuat dari kulit ular dan tombak yang konon dilapisi racun. Tikar bambu menjadi alas duduk kami ditemani temaram pelita. Chef-nya Bang Tupak, sudah menyiapkan makan malam « ala kota » buat kami. Tuo Agoy menolak makan bersama kami, dengan alasan sedang berkabung. Tapi menurut Yosef, sikerei ini tidak enak hati makan bersama kami. Tikar bambu dan kelambu, menjadi pelengkap tidur wajib kalau tidak mau tidur dalam dingin dan menjadi sasaran gigitan nyamuk. Dari sela-sela papan dan tikar bambuku, samar-samar kudengar suara babi di bawah rumah. Aku jadi teringat komentar Yosef, betapa pentingnya arti babi bagi masyarakat Siberut. Kalau ada pesta, si penyelenggara akan melakukan cara-cara tertentu saat memotong babi sehingga menjerit-jerit dengan suara keras. Hal ini dilakukan agar para tetangga mengira babi yang dipotong sangat besar. Ketika pagi menjelang, baru bisa kusaksikan dengan jelas tengkorak-tengkorak binatang yang mengelilingiku sepanjang malam, serta detil-detil rumah dengan jelas. Rumah panggung ini menghadap hutan di belakangnya. Tuo Agoy dan istrinya yang sedang berkabung duduk mengisap rokok sambil mengobrol dengan Yosef. Mereka bicara padaku dalam Bahasa Indonesia yang terpatah-patah. Pagi itu, istrinya Tuo Agoy menawariku untuk mencicipi sagu. Rasanya agak pahit dan sedikit asam.









Tuo Agoy, berpostur kecil dan berkulit gelap. Tubuhnya dipenuhi tato dan mengenakan kabit (celana ala Siberut). Bibirnya tak pernah berhenti mengisap rokok. Tuo Agoy menunjukkan cara memanah buruan dengan panah terpanjang yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Dia juga menunjukkan alat membuat racun untuk ujung tombaknya. Salah satu bahan racun?cabe rawit kecil berwarna Hijau!!!.
Toilet “ala” Siberut
Setelah berkeliling rumah, akhirnya aku mendapat kesempatan untuk melihat toilet versi Siberut. Yosef menanyakan Tuo Agoy, ”Toiletnya sering dibersihin ga?”, Tuo Agoy cuma tersenyum, “Ya, saya waktu itu rajin membersihkan, tapi kalian tidak ada yang datang, ya sudah itu toilet saya biarkan saja”. Katanya dengan tenang. Toilet bagi orang Siberut adalah di alam bebas. Menuju toilet, aku harus melewati lempungan tanah dengan rumput yang tumbuh tinggi di sekelilingnya. Ternyata, yang disebut toilet adalah sebuah lubang berisi aliran air dari sungai yang notabene sama dengan yang mengalir di depan rumah Tuo Agoy. Jadi jangan bayangkan bangunan permanen dengan keramik dan bak mandi. Di sisi kiri kanan “lubang air” tersebut diberi seng yang diletakkan sekenanya. Jadi, sudah siap menjajal toilet ala Siberut?.











Pulau Siberut Selayang Pandang
Pulau Siberut adalah salah satu pulau di Kabupaten Mentawai, Propinsi Sumatra Barat yang terdiri dari 4 pulau utama: Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan plus pulau-pulau kecil lainnya. Ibukota Kabupaten adalah Tuapejat yang terletak di Pulau Sipora. Nadi kehidupan berdenyut lebih kencang di Pulau Siberut daripada pulau-pulau lainnnya. Berada 155 km dari Barat Padang, Pulau Siberut adalah Pulau terbesar di Kepulauan Mentawai (403,300 ha). Pulau Siberut yang menjadi rumah bagi kekayaan flora dan fauna, beberapa diantaranya endemik, kekayaan alam dan budaya Pulau Siberut menjadi surga bagi banyak peneliti dunia. Pulau Siberut menyandang status Cagar Biosfer yang disematkan pada tahun 1981. Terdapat Taman Nasional Siberut dengan luas 190,500 Ha. Malagasat, adalah satu dari banyak kampung tradisional di Pulau Siberut bagian Selatan.
* Dimuat di Majalah Inside Sumatera edisi Maret 2011

2 Comments

Join the discussion and tell us your opinion.

Pungkyreply
June 8, 2011 at 6:04 pm

Halo Wiwik,
Salam kenal.
Tulisanmu menarik sekali, membawa saya pada kenangan waktu berkunjung ke Siberut. Oiya, dulu sempat di kantor yg sama denganmu di Galuh, tp mungkin Wiwik gak kenal saya krn sudah keburu keluar.
Keep writing, tulisannya inspiratif sekalsangat inspiratifi 🙂

Wiwikreply
June 8, 2011 at 8:25 pm
– In reply to: Pungky

Hi Pungky, salam kenal juga. Terima kasih ya sudah baca travel notesku :). Siberut memang assoy. ga jauh beda dengan pulau-pulau lain di Indonesia yang juga bagus-bagus. Aku inget kok, kita pernah bertemu dan bercakap-cakap di reception, di mejanya Riri 😉

Leave a reply