Mencari Surga di Pulau Moyo*

Melihat keindahan pantai, laut dan alam yang kaya akan keanekaragaman flora dan fauna dari pulau seluas 30,000 ha ini, membuat aku percaya mengapa selebriti sekelas Lady Diana, Mick Jagger dan Pangeran William dari Belanda memilih Pulau Moyo untuk berlibur.
Aku dan rekanku asal Belanda, Karsten, tiba di Ai Bari, kampung nelayan yang menjadi titik penyeberangan ke Pulau Moyo, terletak di Utara Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, setelah menempuh perjalanan sepanjang 20 km dari Sumbawa Besar, ibukota kabupaten. Perjalanan yang menyenangkan dengan pemandangan anak-anak menggiring kambing, pohon-pohon lebat sebelum tiba di Kampung Ai Bari yang panas dan kering.
Ai Bari yang dalam bahasa Samawa (sebutan untuk orang Sumbawa) artinya air asin, memiliki potret yang sama seperti kebanyakan kampung nelayan di Nusantara, miskin dan kering, namun kaya akan keramahan tulus penghuninya. Penduduk kampung ini terdiri dari orang samawa, bajo dan bugis, yang keseluruhannya adalah muslim. Di Ai Bari, hijaunya Pulau Moyo langsung tertangkap mataku. Jaraknya seperti dekat sekali.
Pak Lahi yang Melegenda
Di sini aku menemui Pak Lahi setelah janjian dengan Pak Maman, salah satu petugas BKSDA Sumbawa Besar. Pak Lahi (atau Abdullahi) adalah salah satu nelayan yang menyediakan kapal untuk menyeberang Ke Pulau Moyo dari Ai Bari. Pak Lahi dan istrinya, Ibu Hanifah tidak bisa berbahasa inggris dengan baik, namun sudah biasa menerima tamu asing.  Nama Pak Lahi dan ibu Hanifah dikenal seluruh dunia karena disebutkan diberbagai buku panduan wisata (guidebook) dan blog, sejak itu banyak yang mengaku sebagai Pak Lahi. ”Pernah ada tetangga saya yang ngaku sebagai Pak Lahi saat saya sedang melaut, ada beberapa bule datang mau nyebrang ke Pulau Moyo, tetangga saya itu bilang dialah Pak Lahi yang dicari” Pak Lahi dengan lugunya bertutur. Namun Pak Lahi tidak dendam dengan perbuatan tetangganya. ”Setiap orang sudah ada rejekinya. Mungkin saat itu rejeki tetangga saya”, begitu menurutnya dengan wajah penuh ikhlas.








Perjalanan dari Ai Bari ke Pulau Moyo kami tempuh selama 15 menit dengan speed boat.  Ada tiga tempat dimana kapal biasanya bertambat, yaitu di Ai Manis, Tanjung Pasir dan Labuhan Haji. Sangat kontras dengan kemiskinan masyarakat Pulau Moyo dan daerah sekitarnya, di Pulau ini terdapat Aman Wana, resort untuk high end market yang menempati lahan seluas 50 hektar dan memiliki dermaga sendiri. Apabila ada kapal mendekat ke lokasi Aman Wana, para petugas dari resort ini langsung berkumpul di sekitar dermaga untuk memastikan bahwa si penumpang kapal ”tidak berniat macam-macam” di perairan sekitar resort. Di resort yang menyediakan kamar-kamar berbentuk tenda inilah para selebriti dunia menginap.

Penghuni Pulau
Sebagai penanda masih lestarinya pulau ini, ratusan kupu-kupu berbagai warna menyambut kedatanganku dari balik semak-semak dan hijaunya dedaunan. Menyejukkan mataku yang sedikit panas akibat menatap padang rumput yang juga menghadang kami. Pulau ini merupakan rumah bagi berbagai fauna seperti 21 jenis kelelawar, burung, macaque, babi liar, rusa dan ular. Fauna daratan Pulau Moyo relatif mudah ditemui. Namun sangat tidak disarankan memasuki pulau ini tanpa pemandu, demikian saran Pak Maman. ”Wisatawan asing jarang sekali mau ditemani trekking di dalam hutan” Pak Maman bertutur sambil membersihkan sepatu bututnya yang penuh lubang dari duri yang menempel. ”Padahal terkadang ada yang tersesat. Tapi entah kenapa setiap dari mereka yang tersesat pasti menemukan jalan keluar, kadang digiring oleh burung atau kupu-kupu atau menemukan pohon buah-buahan yang siap dimakan tanpa sengaja”  tambahnya lagi. ”Tapi, kalau sudah tersesat, kami atau penduduk kampung juga yang repot”, katanya.
Penghuni lain ada di Desa Labuan Haji dan Sebotok, penduduk desa ini kebanyakan orang Bima dan Bugis. Mereka menggantungkan hidup dari bertani, bercocok tanam dan melaut. Konon penduduk di pulau ini adalah mereka yang ”ditunjuk” Sultan Amarullah dari Sumbawa untuk memelihara dan mengembangkan biakkan ternak sapi. Namun suatu ketika,  malaria mewabah di pulau ini sehingga beberapa keluarga dipindahkan ke sebuah desa di daratan yang juga bernama Moyo. Desa Moyo daratan terletak kurang lebih 5 km di utara Sumbawa Besar yang dapat dicapai dari jalan raya arah Dompu dan Bima. Keluarga yang selamat tetap tinggal. Jumlahnya terus bertambah sampai saat ini dan diramaikan pula oleh pendatang.
Eksotisme Hijau
Mencari surga di pulau ini tidaklah sulit. Aku memilih trekking di hutan untuk mencapai Gua Ai Manis. Berkali-kali Pak Maman dan Pak Lahi harus menebas ranting pohon yang menghalangi jalan. Aku dapat melihat bekas trekking trail dari batu yang disusun rapi, dan kami melangkah di atas bekas trail itu. ”Sebelum Bom Bali masih banyak yang datang ke sini, tapi setelah itu sudah tidak ada lagi, makanya banyak ranting dan trail ini tertutup rumput liar,” Pak Maman seolah mengerti arti tatapan nanarku yang menyayangkan fasilitas bagus yang harus rusak karena minim pengunjung dan perawatan itu.
Gua Ai Manis merupakan tempat ratusan kelelawar bersarang, tapi harus dicapai dengan sedikit memanjat tebing berbatu yang tidak begitu tinggi. Terlihat ”jejak” ular berganti kulit yang meninggalkan kulit tuanya di mulut gua. Gua Ai Manis tidak terlalu dalam, bau menyengat kotoran kelelawar dan ratusan kilatan pasang mata mereka menjadi menu utama ketika memasuki gua. Pak Lahi sibuk mengumpulkan kotoran kelelawar dengan karung goni yang dibawanya. ”Ini bisa dijual untuk buat pupuk”, katanya tanpa ditanya.








Menurut Pak Maman, aktivitas lain yang dapat dilakukan adalah trekking selama 2 jam yang dapat dimulai dari Labuan Haji, ke arah Air terjun Brang Rea (Sungai Besar) yang terletak di tengah pulau. Setelah lelah berjalan menyusuri hutan, berenang di ”kolam renang alami” sungai-sungai kecil di pulau ini atau di laut dapat dilakukan untuk mendinginkan suhu tubuh. Pulau Moyo juga merupakan surga bagi pencinta burung. Dari 124 spesies burung yang terdapat di Sumbawa, 86 jenis diantaranya berada di pulau ini. Spesies burung langka juga dapat ditemukan di pulau yang 23,000 ha wilayahnya memiliki status taman buru ini. Diantaranya adalah kakatua berkepala kuning serta burung gosong, yang ”meninggalkan” jejak di beberapa tempat di pulau ini berupa bekas galian yang besar dan dalam untuk meletakkan telurnya. Burung gosong mengandalkan tanaman dan ranting untuk menghasilkan panas selama masa inkubasi telurnya. ”Wisatawan asing sering datang dengan membawa buku khusus tentang burung” jelas Pak Maman. ”Terkadang, setelah melihat satu jenis burung, mereka membandingkannya dengan gambar yang ada dalam buku. Burung yang dilihat kedidi atau bangau dengan paruh besar” Pak Maman menjelaskan dengan ekspresif.
Eksotisme Biru
Karsten, temanku yang tinggal selama 6 tahun di Pulau Alor, NTT betul-betul memanfaatkan aura keindahan laut Pulau Moyo. Kami menjulukinya sebagai hantu laut, sementara ia menjuluki aku hantu hutan. Karsten mencari surganya dengan snorkeling. Kawasan sekitar pulau memang menawarkan berbagai keindahan bawah laut yang tak kalah menarik. Hampir keseluruhan pulau dikelilingi oleh karang yang masih dalam keadaan baik dan belum rusak. Sponge (spon) dan crustacea, menjadikan laut di sekitar Ai Manis dan Tanjung Pasir sebagai tempat yang baik untuk snorkeling.  Setelah snorkeling, Karsten membagi pengalamannnya,  ”Barusan aku lihat hiu kecil berenang di sekitar pantai Ai Manis, dan di sekitar situ, pemandangan karang sungguh indah. Aku juga lihat belut”, jelas Karsten dalam Bahasa Indonesia yang terbata-bata. ”Tapi harus sedikit hati-hati, arusnya lumayan kencang”, tambahnya lagi. Bagi pencinta dunia penyelaman, lautan di sekitar Pulau Moyo menawarkan ragam keindahan kehidupan bawah laut. Mulai dari hiu dengan panjang kurang lebih 2 meter, anemon, pelagik, belut, atau bahkan manta.


Liveaboard dari Bali, Lombok atau bahkan mancanegara memasukkan persinggahan di pulau ini dalam itinerarynya. Perjalanan biasanya menyinggahi Pulau Moyo dan Pulau Satonda, pulau mungil di sebelah timur laut Pulau Moyo yang memiliki danau air asin di tengah pulau. Di pulau ini, terdapat pohon harapan, dimana pengunjung menggantungkan batu di pohon itu dengan harapan akan kembali lagi. Selebriti yang pernah menggantungkan batu di situ adalah Lady Diana. Tak jelas apakah beliau sempat berkunjung kembali sebelum akhir hayatnya. Sayangnya, hanya Karsten yang sempat singgah ke Pulau Satonda.
Ikan Terbang
”Kalau yang datang dapat ”rezeki”, mereka memang selalu menampakkkan diri”, jelas Pak Lahi sambil menunjuk sekelompok kecil ikan terbang, yang merupakan logo salah satu televisi swasta di tanah air, yang beratraksi tak jauh dari speedboat kami dalam perjalanan pulang ke Ai Bari. Aku tak menyangka diberi rejeki yang begitu besar, aku mengira ikan seperti itu hanya ada dalam khayalan. Ya, rezekinya adalah melihat keindahan alam Pulau Moyo, dan bertemu orang-orang luar biasa seperti Pak Maman, Pak Lahi dan Bu Hanifa….
Info praktis
Waktu terbaik untuk mengunjungi Pulau Moyo adalah Juni dan Juli. Selama Desember sampai Maret biasanya laut sesekali bergejolak.
Untuk mencapai Pulau Moyo sangatlah mudah, perjalanan dengan mobil dapat ditempuh dari Sumbawa Besar, Ibukota kabupaten, ke Ai Bari, kampung pesisir yang terletak sekitar 20 km utara Sumbawa Besar. Bila tidak ingin repot, hotel Tambora dan Kencana Beach Hotel di Sumbawa Besar dapat mengatur perjalanan menuju pulau ini. Jika tak mau kalah dengan selebriti sekelas Lady Di, Mick Jagger dan Pangeran Willian, Amanwana resort, tempat mereka menginap juga menyediakan transportasi langsung ke Pulau Moyo.
Dari Ai Bari menuju Pulau Moyo, bisa menggunakan speed boat yang lebih mahal tapi lebih cepat, atau kapal ketinting yang lebih murah dan lebih lambat. Kontak Pak Lahi sehari sebelum berangkat untuk mempersiapkan kapal dan bensin.
Di Pulau Moyo tidak ada akomodasi lain selain Amanwana. Jika ingin menginap di pulau ini disarankan membawa tenda atau sleeping bag serta makanan sendiri, karena fasilitas tersebut tidak tersedia di pulau ini. Wisatawan juga dapat menginap di pos jaga di Labuhan Haji atau di Brang Kua yang sangat sederhana dan minim fasilitas. Biasanya, ibu Hanifa istri pak Lahi sering diminta memasak oleh para wisatawan untuk memenuhi kebutuhan mereka selama menginap di pulau.
Untuk kegiatan trekking di pulau, disarankan menggunakan jasa pemandu. Bisa menghubungi Pak Maman, BKSDA Sumbawa Barat.
Menyelam juga mungkin dilakukan di sekitar Pulau Medang, yang terletak di Barat Laut Pulau Moyo. Untuk snorkeling dan menyelam sebaiknya juga ditemani pemandu yang mengerti keadaan perairan sekitar. Karena di beberapa tempat terdapat arus yang lumayan kencang dan membentuk pusaran air. Tidak ada tempat penyewaan alat snorkeling dan diving di sini. Sebaiknya peralatan sudah disiapkan sebelum pergi. Menyelam dapat diatur melalui Laguna Biru Resort yang berada di pinggiran kota Sumbawa Besar apabila tidak ingin merogoh kocek terlalu dalam untuk mengatur diving dari Aman Wana.
*Dimuat di Majalah Tamasya Juni 2007 dalam versi yang berbeda

Share your thoughts