Jatuh Cinta pada Luang Prabang

Aku keluar dari bis yang membawaku ke Luang Prabang dari Vientiane City. Dengan tatapan penuh tanya aku menatap kesekeliling. Terminal bis ini sepi sekali. Terlihat janggal dengan bis yang 80% isinya adalah wisatawan berbagai bangsa termasuk aku. Sesama wisatawan biasanya mudah berkenalan dan ngobrol. Termasuk aku dengan salah satu wisatawan dari Inggris yang sama terpananya denganku. Kami akhirnya memutuskan untuk naik satu tuk tuk (sejenis bemo hanya saja lebih besar). Tempat ini seperti Sukabumi di awal ’90-an. Semua bergerak lamban, sama seperti di Vientiane.
“Sabbai Dii.. “…sapaan penuh keramahan bersemat senyum tulus menyambutku dari pemilik penginapan. Sabaïdi, yang berarti halo, adalah sapaan khas yang diucapkan setiap orang lokal yang saling bertemu. Sapaan penuh kelembutan itu pula yang menyambutku sore ini. Setelah berbenah diri, tanpa membuang waktu lagi aku segera keluar ingin melihat aktivitas sore itu.
Mutiara Terpendam

Luang Prabang adalah rahasia terpendam diantara untaian mutiara destinasi wisata Asia Tenggara. Terletak di ketinggian kurang lebih 700 m diatas permukaan laut, serta dikelilingi hijaunya lembah dan pegunungan, kota mungil ini berjarak 425 Km ke arah Utara dari Vientiane City, Ibukota Laos dengan sebagian besar penduduknya adalah pengikut aliran Buddha Theravada.
Legenda masyarakat setempat mengenai penemuan kota mereka sungguh beragam. Salah satu kisah menyebutkan ribuan tahun lalu, kota ini ditemukan dua kakak beradik yang menyisir daerah utara dan mencari kaki bukit sebagai tempat pertapaan. Mereka meramalkan suatu saat kota ini akan menjadi kerajaan yang kuat.
Sebagian lagi masyarakat percaya bahwa Sang Buddha sendiri yang mendatangi dan menemukan kota ini. Sebagai bukti kedatangannya, terdapat bekas pijakan kaki Sang Buddha selebar kurang lebih 2 m di salah satu kaki bukit dekat Wat Siphutabaht, salah satu dari sekian banyak wat di Luang Prabang.
Adalah Henri Mouhot, penjelajah dan naturalis asal Perancis, yang dikenal sebagai orang Eropa pertama yang menyentuh pedalaman Laos. Henri Mouhot juga dikenal sebagai orang yang memperkenalkan Angkor Wat (di Kamboja) kepada dunia luar terutama Eropa melalui catatan perjalanannya yang sangat detil. Dalam catatan perjalanannya, Henri Mouhot menggambarkan Luang Prabang adalah kota kecil “yang sangat menakjubkan”. Dia meninggal akibat malaria pada 1861 di kota yang disebut olehnya sebagai surga kecil itu. Mouhot dikuburkan di daerah perbukitan Nam Khan tak jauh dari Luang Prabang. Kuburannya saat ini jadi atraksi wisata pengunjung Luang Prabang.
Geliat kegiatan wisata sudah mulai sekitar awal tahun 1990-an. Kisah Luang Prabang dan segala keindahannya menyebar seiring dengan bertambahnya angka kunjungan wisatawan ke Laos. Sejak 1990-an, angka kunjungan wisatawan ke Laos sedikit demi sedikit melonjak dengan pasti dari angka hanya ratusan wisatawan ke angka satu juta dua ratus lebih wisatawan pada 2006, dengan Luang Prabang sebagai salah satu destinasi wajib kunjung. Pariwisata telah merubah wajah kota. Villa, hotel, guesthouse, kafe, restaurant, gallery seni, travel agent, toko souvenir mulai berdesakan dengan toko-toko yang melayani kebutuhan masyarakat Luang Prabang sendiri.
Kota Tua Warisan Dunia
Kota tertua di Laos yang dialiri dua sungai, Nam Khan dan Mekong ini ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada 1995. Dengan identifikasi sebagai kota yang memiliki nilai sejarah autentik yang dilindungi serta bernilai luar biasa, kota ini menawarkan kombinasi menarik mulai dari alam sekitar yang indah, kerajinan tradisional, ritual keagamaan Buddha, aneka ragam makanan, keramahan penduduknya hingga arsitektur tradisional yang masih terpelihara dengan baik.
Tipologi bangunan-bangunan di Luang Prabang memiliki keanekaragaman rupa yang luar biasa. Sebut saja bangunan tradisional dengan tipe rumah panggung dari kayu dan memiliki jendela kayu tanpa kaca, atau bangunan Laos bergaya kolonial, yang merupakan bangunan batu bata. Hampir keseluruhan bangunan asli merupakan bangunan dua tingkat. Bangunan tradisional asli Laos biasanya menggunakan bahan-bahan alami seperti kayu. Ketika didirikan, dilengkapi pula dengan ritual untuk menolak bala oleh si penghuni rumah.



Beberapa bangunan merupakan paduan antara arsitektur tradisional Laos dengan arsitektur Cina, Vietnam dan Perancis seiring dengan banyaknya pengaruh dari luar Laos. “Campuran” ini sendiri disebabkan oleh keberadaan komunitas Vietnam yang bekerja dan menetap secara permanen di kota ini, ditambah dengan komunitas Cina pedagang yang mendirikan rumah toko, serta pengaruh gaya kolonial Perancis.
Dengan ditetapkannya Kota Luang Prabang sebagai warisan dunia oleh UNESCO, membangun rumah di kota ini haruslah sesuai dengan panduan yang dirumuskan untuk melindungi arsitektur dan karakter kota. Para pemilik rumah dan bangunan wajib berkonsultasi terlebih dahulu apabila ingin membangun atau memperbaiki bangunan melalui lembaga penasihat yang disebut Heritage House Advisors. Lembaga ini bahkan memiliki otorisasi untuk menolak permohonan izin membangun pada zona-zona yang dilindungi di Luang Prabang.
All About Market
Aku menatap bangunan-bangunan di sekitarku. Semilir angin sore benar-benar membuat suasana ketenangan sangat kental terasa. Waktu seakan berhenti bergerak. Orang-orang berjalan santai dengan tersenyum ramah. Sepeda dan motor berseliweran dengan tertib dan berkecepatan rendah. Maka, menyusuri detil-detil Luang Prabang bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Berbagai aktivitas penduduk banyak berlangsung pada sore hari. Aktivitas kota terpusat di Sisavanvong Road, nama raja Kerajaan Laos yang disematkan pada jalan utama kota itu.
Aku masuk ke kawasan yang disebut sebagai “pasar”. Pasar ini sebenarnya hanya terdiri dari satu ruas jalan kecil yang memanjang. Sisanya menempati lahan di seberang Sisavanvong Road. Saat memandangi pasar itu dan segala aktivitasnya, aku mulai merasa jatuh cinta pada kota ini. Semuanya tersenyum dengan penuh kelembutan. Tidak ada yang bicara dengan suara keras. Di pasar itu, kue-kue, masakan matang, sampai kebutuhan sehari-hari digelar di atas meja-meja oleh para pedagang dengan warna dan aroma yang membuat perut menjadi lapar.
Aku mendekati kerumunan wisatawan yang mengerubung di salah satu “warung”. Di situ terdapat satu meja panjang dengan dua bangku panjang. Di atas meja terdapat berbagai macam menu vegetarian seperti sayur, mie dan tahu yang diletakkan didalam baskom-baskom. Harganya murah saja. Dengan piring kecil hanya seharga 5000 Kip (5000 Kip= Rp. 5000) dan piring besar 8000 Kip. Kita bisa memilih seluruh makanan yang ada di meja sesuai keinginan dan tentu saja sesuai daya tampung piring. Aku memilih piring kecil yang dapat menampung makaroni, tahu, mie, kangkung dan sayur jagung. Warung vegetarian seperti ini bisa ditemukan di berbagai tempat di Luang Prabang dan menjadi favorit para wisatawan. Selain murah, enak dan juga bersih.
Selain pasar makanan dan kebutuhan sehari-hari tadi, masih ada pasar malam yang menjadi menu wajib kunjung. Pasar malam adalah denyut jantung Luang Prabang yang berdetak mulai jam 5 sore hingga jam 11 malam. Beberapa ruas jalan kecuali jalan utama tertutup bagi berbagai jenis kendaraan untuk memberikan tempat buat para pedagang. Persiapan pasar malam ini akan mulai terlihat saat jam 5 sore dan berbagai souvenir penuh warna mulai digelar para pedagang mulai dari  lukisan, berbagai kerajinan tangan, kopi dan teh laos, dompet, tas, baju, aksesoris, serta selendang aneka warna. Semua dijual dengan harga super murah yang aku yakin akan membuat para penggila belanja menjadi kalap. Menurutku, tak seorang pun yang akan sampai hati untuk menawar, karena harga yang ditawarkan sedemikian murah dengan penjual yang lemah lembut dan super ramah. Setelah dari pasar malam ini, rasanya cintaku pada Luang Prabang makin bertambah.




Melongok Ribuan Patung Buddha
Sebelum sarapan pagi itu, staff guest house tempatku menginap bertanya « Tadi lihat Binthabat ? ». Prosesi Binthabat sebenarnya sangat sayang untuk dilewatkan. Hanya saja, aku bukan tipe orang yang bangun pagi. Sehingga ritual ini terlewatkan. Prosesi tua yang sudah dimulai sejak pagi buta ini sudah berlangsung sejak lama di Luang Prabang. Para biksu akan berjalan dalam satu barisan dengan membawa keranjang untuk menerima persembahan dari masyarakat sekitar. Masyarakat, laki-laki dan perempuan yang mengharap pahala akan berada dalam satu barisan menanti para biksu mendatangi mereka. Biasanya, persembahan berupa beras, uang atau bahan makanan lain yang bisa dimakan. Informasi detil ini kuperoleh dari staff guest house ini.
Saat sarapan pagi di sebuah cafe ala Perancis “Bon Cafe”, aku melihat brosur beserta foto Gua Pak Ou yang sering disebut Buddha Cave. Jadilah rencana hari itu mendadak berubah. Setelah sarapan, aku menuju tempat perahu-perahu ditambatkan di tepi Sungai Mekong. Gua Pak Ou berada 25 Km dari pusat Kota Luang Prabang. Perjalanan menuju gua ini ditempuh selama ±2 jam dengan perahu bertarif 50 000 Kip per orang. Perjalanan pergi memakan waktu yang lebih lama karena kapal singgah di Desa tenun Xang Hai. Pemilik perhu motor membiarkan melihat-lihat sekitar desa.

Perahu bermotor yang aku tumpangi menampung 6 penumpang yang keseluruhannya wisatawan. Perahu ini berjalan menyusuri Sungai  Mekong menuju bibir Sungai Nam Ou. Memasuki gua pengunjung harus membayar lagi sebanyak 20 000 Kip. Gua Pak Ou terbagi menjadi dua bagian. Satu gua di bawah yang bernama Tham Ting dan satu lagi berada di atas yang bernama Tham Phum. Gua Tham Ting dapat dicapai melalui anak tangga ke mulut gua dari tepi sungai. Di sini terdapat kurang lebih 5000 patung Budha berbagai ukuran dan posisi yang diletakkan orang-orang yang beribadah di sini. Naik ke Tham Phum, lagi-lagi butuh pengorbanan, entah berapa anak tangga yang harus aku  lewati. Sampai akhirnya aku tiba di gua Tham Phum yang berada di bagian atas. Di lorong masuk, terdapat satu patung Buddha yang besar. Gua yang satu ini sangat gelap sehingga membutuhkan senter untuk melihat apa yang ada didalamnya. Di beberapa bagian terdapat lukisan gua dan batu-batu yang dibentuk menyerupai naga. Pada anak tangga menuju Tham Phum, banyak anak-anak menjajakan batu-batu dan pisang. Buatku, membeli batu ini berarti juga mengambil “spirit” yang ada ditempat ini dan mendorong anak-anak dibawah umur untuk berjualan. Aku memutuskan untuk tidak membeli bebatuan tersebut. Kembali ke  Luang Prabang dari Gua Pak Ou memakan waktu hanya satu jam karena tanpa singgah di desa mana pun.



Kota bertabur Kuil
Sampai di Luang Prabang, waktunya makan siang. Menu makan siang hari itu adalah ala Laos. Orang Laos biasanya makan dengan beras ketan. Mereka memakannya dengan membentuk bulatan kecil lalu dicelupkan ke berbagai lauk di depan mereka. Biasanya mereka memesan beberapa lauk dan dimakan bersama-sama. Aku mencoba Tamahung, seperti Som Tam di Thailand, salad papaya yang super pedas dan sedikit asam manis, tapi sangat segar. Serta Tom yam Paa, sup ikan yang juga asam manis pedas. Serta Nem berisi sayuran. Orang Laos juga memakan daging hewan yang aneh-aneh seperti semut, tikus, ular, anjing, kucing, kelelawar bahkan tupai. Salah satu makanan khas Luang Prabang yang paling terkenal adalah sosis luang prabang.
Kota ini benar-benar ditaburi Wat (kuil/pagoda) yang memenuhi hampir berbagai sudut kota. Salah satu Wat yang katanya paling indah di Luang Prabang (bahkan di seluruh Laos) adalah Wat Xienthong, yang merupakan wat tertua di Luang Prabang. Raja Setthathirat menitahkan pembangunan wat ini pada 1560 dan masih berada pada kekuasaan kerajaan hingga 1975. Arsitektur dari wat ini merupakan ragam kuil Luang Prabang asli. Wat Xienthong merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari beberapa bangunan. Bangunan yang didirikan pada waktu itu adalah Sim atau bangunan utama tempat peribadatan, serta perpustakaan Tripitaka dibangun di kompleks yang sama pada 1828. Kisah lokal menyebutkan bahwa ketika masyarakat Luang Prabang hendak membangun wat ini, di tempat tersebut terdapat pohon Thong yang sangat tua dan memiliki bunga yang sangat indah berwarna merah. Terinspirasi dari pohon tersebut, masyarakat membangun wat dengan  mendekor dinding kaca berwarna merah yang diberi mosaik yang luar biasa indah. Mural tersebut masih terpelihara dengan baik sampai saat ini. Di dalam kompleks ini juga terdapat bangunan dimana ditempatkan kendaraan untuk prosesi penguburan yang luar biasa besar dengan tinggi kurang lebih 12 m.


Wat lain yang tidak kalah indahnya adalah Wat Mai Suwannaphumaham. Wat yang terletak di jalan utama Sisavangvong ini dibangun pada 1796. Arsitektur wat ini merupakan arsitektur kuil asli Luang Prabang yang sedikit lebih “modern”. Relief bangunan yang berlapis emas ini menggambarkan kehidupan sehari-hari serta reinkarnasi terakhir Sang Buddha. Di sini tadinya merupakan hunian salah satu pemimpin Buddha, Phra Sangkarat. Pada salah satu bangunan utama terdapat atap berlapis empat yang konon menghabiskan waktu selama 70 tahun untuk menyelesaikannya. Setahun sekali pada setiap peringatan tahun baru Laos, Pha Bang, patung Buddha yang ditempatkan di istana kerajaan (Royal Palace museum) akan dipindahkan di wat ini untuk diperlihatkan kepada masyarakat luas.

Para arsitek yang meneliti bangunan peribadatan di Luang Prabang mengklasifikasikan tipologi wat di laos berdasarkan bentuk atapnya. Sebutlah salah satunya Henri Parmentier yang merupakan peneliti pertama yang menginventarisir sejumlah wat di Laos pada 1911 hingga 1927. Parmentier mengkategorikan tipologi wat  menjadi dua bagian berdasarkan bentuk atapnya, yaitu atap dengan dua panel utama dan atap dengan lapis empat pada setiap sisi hingga ujungnya, seperti yang terdapat pada Wat Mai Suwannaphumaham.
Sayangnya, ketika aku mengunjungi Royal Palace Museum, pintu utamanya sudah ditutup sehingga aku hanya bisa menikmatinya dari halaman. Padahal disini terdapat Pha Bang, patung Buddha terbuat dari campuran emas, perak dan perunggu setinggi 83 cm dengan berat 54 Kg. Pha Bang merupakan pemberian Raja Khmer Phaya Sirichanta kepada Raja Fa Ngum.
Saat berjalan di Sisavangvong Road, aku melihat Stupa berwarna keemasan yang berada di atas bukit. Aku segera menaiki Bukit Phu Si, nama bukit dmana Wat Chomsi dan stupa dengan tinggi 20 m berwarna keemasan itu berada. Karena letaknya yang di atas bukit, serta berada di tengah kota, Wat Chomsi ini dapat dilihat dari arah manapun di kota Luang Prabang. Untuk menaiki Wat ini, aku harus sedikit berkorban dengan menaiki 328 anak tangga menuju ke puncaknya. Sambil berharap pengorbanan ini akan mendapat “balasan yang setimpal”, aku memandang ke segala arah sambil terus menaiki tangga demi tangga. Sesekali aku berjumpa dengan wisatawan yang lain yang turun dari bukit tersebut. Semua menyemangatiku untuk naik hingga ke puncak tertinggi dari bukit itu.

Ternyata “balasan” yang aku  terima adalah pemandangan Sungai Mekong dan sekitarnya serta kota Luang Prabang yang luar biasa indah dilihat dari atas. Menyaksikan matahari terbenam dari tempat yang dianggap suci ini sungguh bayaran yang setimpal dengan tenaga yang dikeluakan untuk menaiki bukit. Jangan heran kalau sekali-kali akan menjumpai pesawat yang akan landing karena dari tempat bias melihat ke bandara. Ketika memandang ke bawah sana, aku makin jatuh cinta pada kota ini.

Aku menuruni Bukit Phu Si dengan menempuh jalan yang berbeda ketika naik. Aku berjalan turun kearah timur laut dan menemukan sebuah gua tempat umat Buddha beribadah, serta patung-patung besar yang menggambarkan setiap pergerakan sang Buddha. Di sudut yang lain adalah jalan menuju kearah gua dimana terdapat jejak kaki Sang Buddha. Konon katanya Sang Buddha pernah singgah dan meninggalkan jejak kaki seperti yang aku lihat di kaki bukit ini. Hari sudah beranjak malam ketika aku sampai di kaki bukit. Sisa malam itu aku manfaatkan dengan berburu barang-barang kerajinan Laos beraneka rupa dan warna dengan harga super murah. Hampir seluruh wisatawan asing senang berjalan-jalan mengelilingi pasar malam ini. Selain bisa berbelanja dengan harga murah dan beraneka ragam barang, lampu-lampu yang menjadi penghias menambah keindahan pasar ini sehingga pengunjung betah berlama-lama.

Mungkin aku betul-betul jatuh cinta pada Luang Prabang. Keramahan penduduk berbalur kejujuran yang aku temui pada hampir setiap orang, menyisakan kenangan tersendiri. Keesokan harinya ketika bis yang aku tumpangi menuju Vientiane City, ibukota Laos melaju dengan perlahan tapi pasti, aku masih terus dibayangi aroma jajanan pasar, kue-kue, ramainya pasar malam, langkah pasti para biksu yang berjalan-jalan di tengah kota, membuat satu perasaan hadir: suatu saat, aku ingin kembali lagi ke Luang Prabang…
TIPS:
Menuju Luang Prabang dapat ditempuh dengan berbagai cara. Wisatawan banyak menempuh jalan darat dengan dua alternatif: datang dari perbatasan Thailand – Laos (Huay Xai) atau dari Vientiane City. Jalan darat dari Vientiane City dapat ditempuh selama 9 jam perjalanan dengan bis yang cukup nyaman. Hanya saja, siap-siap dengan kondisi jalan yang naik turun dan berkelok-kelok namun menyajikan pemandangan desa-desa mungil dan pegunungan yang indah ala kartu pos. Bila tidak ingin duduk di bis seharian, perjalanan bisa ditempuh dengan pesawat. Tujuan Luang Prabang dilayani oleh penerbangan dari Vientiane City atau Chiang Mai dan Bangkok, Thailand.
Luang Prabang kaya akan pilihan kuliner. Menu dan rasa masakan hampir sama dengan di Thailand. Berbagai kegiatan lebih enak dilakukan pagi dan sore hari, misalnya duduk di salah satu restaurant di tepian sungai Mekong. Tidak  untuk menyaksikan sunset, tapi pemandangan yang disajikan cukup  spektakuler bagi yang menyukai kegiatan penduduk dengan perahunya.
Jangan berharap akan mendapatkan pelayanan super cepat. Semua bergerak lamban dan lemah gemulai. Tapi herannya tidak ada yang berteriak dan mengeluh atas pelayanan yang serba lambat ini. hampir semua wisatawan memaklumi.
Untuk info perjalanan ke Luang Prabang dan tempat lain di Laos, clik link ini: http://www.ecotourismlaos.com/index.htm

10 Comments

Join the discussion and tell us your opinion.

danan axioma
March 6, 2011 at 10:43 pm

menarik sekali. semoga aku juga bisa mengunjunginya segera. hanya tinggal laos negeri asean yg belum sempat kukunjungi. trims untuk cerita menariknya.

Wiwik
March 6, 2011 at 11:39 pm
– In reply to: danan axioma

Trims Mas Danan. Laos menarik dan recommended untuk dikunjungi. Kalau mau melihat Thailand 20-30 tahun lalu, ya Laos tempatnya :). Beberapa tempat justru lebih siap drpd destinasi kita..:(

Jemy
March 12, 2011 at 11:44 am

Pengalaman travelling yang sungguh menyenangkan.. Jadi ingin mengunjungi Laos..Btw harga tiket bus dari Viantiane – Luang Prabang berada dikisaran berapa ya? Terimakasih..

MARLINA
March 13, 2011 at 12:39 am

Hi Mbak.
Aku senang bisa membaca tulisan mbak mengenai luang prabang.
dalam bulan ini aku segera ke laos & pastinya berkunjung ke luang prabang, boleh minta info hostel/ penginapan yg dipakai di
Vientiane City & Luang prabang serta ratenya.
nama bis & di mana saya bisa mendpt kan tiket ke luang prabang dari vientiane ?
terima kasih atas replynya.
Marlina

fauzi
December 19, 2011 at 5:44 pm

mba.. saya agak kesulitan menemukan penerbangan ke laos dari jakarta…. apa harus transit dulu atau giimana ya?? untuk ke laos buth visa khusus atau hanya seperti mengunjungi thailand atau singapura?

Wiwik
December 19, 2011 at 7:16 pm
– In reply to: fauzi

Hi Zi, sptnya memang tdk ada ya dr Jakarta ke Vientiane atau L. Prabang. Waktu itu sy dr Hanoi ke Vientiane, dr Vientiane baru ke Luang Prabang. Kalau mau naik AA bs dr KL. Visa coba baca postingan sy yg Vientiane, dl hrs Visa on arrival, mngkn skrg udah berubah.

Inez Arieyatne
December 29, 2011 at 1:28 am

Seru dan menyenangkan sekali bacanya…
Rencana saya taun depan pengen menikmati kota cantik ini.
Semoga mbak wiwik ga keberatan kalo saya banyak tanya…thx

Arnoldy
May 17, 2012 at 8:11 am

Salam kenal Mbak, mau tanya beberapa hal. :
1. Jika dari Hanoi via jalan darat sebaliknya itenerary ke Viantiane atau Luang Prabang dulu, berapa lama perjalanan darat dng Bus
2. Berapa hari waktu minimal sebaiknya yg diluangkan di LuangPrabang dan di Viantiane
3. Apa saja Objek wisata di Viantiane
Terima kasih

Wiwik
May 22, 2012 at 10:07 pm
– In reply to: Arnoldy

Halo salam kenal juga. untuk pertanyaan no. 1 dan 3, bisa lihat postingan saya tentang Vientiane. http://www.mytravelnotes.web.id/category/laos/ saya dari Hanoi naik bus ke Vientianne (selama 24 jam) dulu baru ke Luang Prabang. Soal berapa lama di sana tergantung apa yang menjadi favorit. Kalau senang budaya dan kuliner, pasti akan suka berlama-lama di Luang Prabang. Saya agak lama di Luang Prabang drpd Vientianne. kalau visit yang biasa saja, 3 hari di masing-masing kota sudah cukup.

admiyanti
October 23, 2013 at 3:05 pm

salam kenal… wow ingin sekali saya ke sana..kota yg damai… kalo dari hanoi naik pesawat ke luang prabang ada nggak…