Italia 5 – Perjalanan ke Roma

Untuk alasan gelato, musim panas memang saat yang tepat mengunjungi negeri ini. Di Roma ternyata gelato juga dijual oleh pedagang kaki lima yang menggelar kios atau mobil-toko di depan museum. Walau sudah enek karena terlalu sering membeli gelato selama di Italia, saya  tak mengerti kenapa masih saja mencoba gelato rasa baru dari gerai kaki lima yang saya temui dalam perjalanan menuju Vatican City.

Anything can happen in Roma

Yang menarik perhatian dari Vatican City sebenarnya adalah petugas keamanan dengan seragam garis-garis vertikal berwarna jingga dan biru terang, memakai topi berbentuk segitiga. Celana para pengawal ini mengetat pada betis dan menutup hingga ke bagian sepatu mereka yang berwarna hitam. Sangat tidak lazim, tapi itulah yang membuat mereka menjadi menarik.

Petugas keamanan di Vatican City

Ketika tiba di negara terkecil di dunia itu, mata saya tertumbuk pada pemandangan seratus delapan puluh derajat di depan—lapangan persegi Saint Peter. Ada tugu peringatan beserta kolam air mancur. Saat menapaki lorong dengan pilar-pilar raksasa tinggi ke atas, menjadi sangat mengerikan karena manusia-manusia di bawahnya terlihat sangat kecil. Beberapa pelancong bergerombol, memandang ke arah balkon tingkat dua bangunan Basilika Saint Peter. Mereka menyebutkan bahwa pada waktu-waktu tertentu paus akan muncul di situ. Di bawahnya, wisatawan antre untuk masuk ke Basilika.
Katedral di sini juga punya aturan yang ketat. Ketika masuk, beberapa wisatawan di depanku diminta keluar dari Basilika Saint Peter karena mengenakan kaos kutang dan celana pendek. Bagian dalam basilika ini begitu megah, besar dan detail sekali. Dengan langit-langit berbentuk kubah yang mencuat tinggi, sebagian ditutupi lukisan karya Raphael.
Lantai seluruh ruangan ini ditutup pualam dengan ornamen warna-warni aneka bentuk. Ada pula penutup lantai bundar yang menembus pandangan ke bagian bawah lantai basilika melalui sela-sela ukiran besi. Pengagum karya seni akan mencari patung Pieta karya Michelangelo, atau patung Alexander VII dengan tengkorak dan perempuan dalam selimut yang terbuat dari marmer. Lipatan selimut itu benar-benar mirip kain asli. Para pematung modern di luar sana mungkin akan pingsan kalau melihat hasil pahatan keramik seperti ini. Kalau memang berniat menikmati karya seni di dalam sini, harus mencari informasi lebih dahulu benda apa yang dirasa menarik. Karena tempat ini menyimpan banyak sekali karya seni (buat yang mengerti).

Pahatan pualam Monumen untuk Alexander VII karya Bernini
Pieta karya Michelangelo
Dari sela-sela penutup emas ini bisa melihat ke lantai bawah

Hari makin sore ketika saya menyeberang lapangan persegi Saint Peter, melintas di depan City wall atau tembok menjadi pembatas antara Vatican City dengan Roma, menuju Via della Conciliazione yang sering diabadikan para pejalan yang sudah menapakkan kaki di kota ini. Saya mengarah pada Ponte Sant Angelo— jembatan termahsyur Kota Roma. Jembatan ini melintasi Sungai Tiber yang keruh dan tenang, dengan Castle Sant Angelo berdiri kokoh di depan jembatan. Selain turis, orang lokal juga lalu lalang di sini. Pada sisi kiri dan kanan jembatan dihiasi patung-patung malaikat. Jembatan ini kotor sekali. Banyak sampah plastik dan kertas bertebaran. Mungkin dari pedagang kaki lima yang menggelar dagangan di sepanjang jembatan.

Inilah Via della Conciliazione
Kastil Sant Angelo
Jembatan Sant Angelo
Boks telepon umum yang modern

Sore hari di Roma paling enak diikmati di jalan-jalan yang tidak banyak dilalui turis melalui lorong-lorong kumuh dipenuhi tempelan poster dekat kawasan Ponte Sant Angelo. Begitu keluar dari lorong-lorong itu, saya menemukan alun-alun kecil tempat beberapa anak muda bermain sepak bola. Ada yang nonton sambil duduk pada tangga gedung di belakangnya, ada pula yang saling pangku berciuman tanpa perduli keributan di sekitarnya. Salah seorang perempuan muda yang turut menyaksikan pertandingan bola bergegas pergi menuju skuternya yang diparkir berdampingan dengan jajaran motor dan skuter lain.
Hari sudah menjelang sore ketika saya tiba di Piazza Navona. Alun-alun ini adalah yang paling terkenal di Roma, juga dengan kolam air mancur Empat Sungai yang paling populer di kota ini. Pada bagian tengah kolam berdiri tugu yang tinggi, dan patung-patung besar melambangkan empat sungai penting saat kolam itu dibangun, yaitu Nil, Gangga, Danube, dan Rio de la Plata. Saya sebentar saja berada di situ karena sepertinya sudah terlambat tiba di Panthéon. Sore hari begini bukan saat yang tepat, sehingga saya berpikir untuk datang lagi besok dan mengarah ke kolam Trevi. Di Panthéon, bias sinar matahari bebas masuk ke dalam bangunan melalui atap tanpa penutup berbentuk bulat. Sehingga sinar matahari yang masuk akan membentuk garis panjang yang membentuk bundar. Banyak pengagum Raphael—pelukis terkenal Italia—yang datang ke sini untuk ziarah ke pusaranya.

Panthéon dilihat dari luar pada sore menjelang malam.
Bagian dalam Panthéon pada siang hari.

Saat mencari jalan menuju kolam Trevi, saya menemukan musisi jalanan membawakan lagu-lagu pop di alun-alun Piazza della Minerva. Tak jauh berjalan dari situ, menjumpai lagi orkestra musik klasik  yang sangat serius pada alun-alun Piazza di Sant Ignazio. Pemusik orkestra ini berpakaian seragam biru seperti angkatan laut. Mereka memainkan alat musik lengkap seperti yang sering saya lihat di televisi pada peringatan 17 Agustus di Istana Merdeka.

Musisi jalanan di alun-alun Piazza della Minerva

Setengah berlari saya menuju kolam Trevi karena khawatir kemalaman. Tiba di kolam Trevi, saya hampir tak dapat mencapai pinggiran kolamnya. Penuh riuh dengan wisatawan yang menyemut. Kolamnya sendiri hampir tidak kelihatan karena orang-orang yang menyemut. Mereka berfoto, memotret, dan melempar koin. Seperti pada Jembatan Ponte Vecchio di Florence di mana orang-orang menyematkan gembok tanda cinta, di sini para pejalan melempar koin agar kembali, atau mendapat jodoh. Semua senang melakukan itu. Melempar koin di situ dan berharap akan kembali lagi. Saya pun lantas ikutan. Mengharap seperti itu ternyata menyenangkan.
Saya melempar koin sekenanya pada kolam itu ketika seorang ibu tua berambut pirang yang berdiri di sebelah saya bersama pasangannya memberitahu bagaimana caranya melempar koin di kolam Trevi. Saya pikir, kita bisa melempar koin dengan gaya dan jumlah koin sesuka hati. Ternyata tidak. Cara melempar koinnya adalah dengan membelakangi kolam, lalu lempar koin dengan tangan kanan, melalui bahu kiri. Satu koin Anda akan kembali, dua koin akan kembali dan menemukan cinta, tiga koin anda akan kembali, menemukan cinta, dan menikah! Terserah mau pilih yang mana.

Pemandangan kolam Trevi yang sebenarnya
Kolam Trevi

Besoknya, saya sudah berjalan pagi-pagi sekali. Lalu melipir untuk menikmati sarapan di café tak terkenal sepanjang pagi, menikmati minuman panas dan roti. Itu pun menjadi sangat menyenangkan di sini. Menyaksikan segala macam manusia aneka rupa yang akan beraktivas pagi lewat di depan café.
Berjalan di Roma membuat manusia terlihat sangat kecil, karam diantara bangunan raksasa sisa-sisa ibukota kuno paling bersejarah dengan pemerintahan paling berkuasa sepanjang masa. Saya tak berlama-lama karena ingin segera tiba di Colosseum, yang menuju ke tempatnya saja sudah terlihat reruntuhan bangunan kuno yang dibiarkan begitu saja, menjadi tontonan gratis untuk turis. Colosseum besar banget, saya tak sanggup membayangkan bagaimana orang-orang dimasa lalu membangunnya. Sisa reruntuhan bangunan saja sudah sehebat ini.

Colosseum dilihat dari seberang jalan

Beberapa pria yang lewat di depan saya, mengenakan jubah merah, pedang dipinggang, sandal melilit hingga setengah betis, dengan topi besi di kepala, bak prajurit yang bersedia dibayar untuk foto bersama. Mereka melengkapi khayalan setiap orang akan para gladiator yang bertarung di arena Colosseum dulu. Pada bagian dalam terdapat salib besar dalam arena, yang ditancapkan salah satu paus (yang saya lupa siapa) untukmembersihkan tempat ini dari dosa-dosa masa lalu. Ribuan manusia dan hewan mati dalam pertempuran yang sengaja dijadikan pertunjukan di Colosseum. Jangan bayangkan bagian tengah dari Colosseum berupa langan luas seperti di film Gladiator. Bagian tengah Colosseum yang asli berupa lorong-lorong labirin dengan tembok-tembok berkolom-kolom. Manusia dan hewan yang dilepas di situ harus mencari jalan agar saling menghindar. Mengerikan membayangkan manusia yang tidak punya pilihan harus melawan atau mati berhadapan dengan makhluk yang tak setara akalnya.
Kawasan luas di sekitar Colosseum adalah reruntuhan bekas pusat kegiatan politik Kekaisaran Roma. Pada zaman modern pun, kota reruntuhan ini terlihat begitu dramatis. Arch of Constantine, bangunan peringatan berbentuk melengkung yang ada dekat Colosseum menjadi pintu masuk untuk menapaki zona ini, yang berupa reruntuhan basilika, altar pemujaan, bangunan-bangunan melengkung, pilar-pilar yang menjulang tinggi, serta bagian depan beberapa bangunan tua yang masih menyisakan ukiran detail. Inilah wilayah  yang disebut Forum Romanum. Satu hal, tidak mungkin ke kawasan reruntuhan ini tanpa panduan. Untungnya saya sudah membeli buku saku kecil pada kios buku yang berjajar di pinggir jalan dekat Stasiun Kereta Roma Termini. Kalau tidak, mungkin saya hanya plonga-plongo di antara reruntuhan bangunan ini tanpa mengerti maknanya. Satu kompleks reruntuhan lain yang terletak berdekatan adalah Fori Imperiali.

Arc of Constantine



Arc of Septimius Severus dilihat dari kejauhan
Salah satu bagian Forum Roman
Arc of Titus
Bagian depan pintu masuk ke Temple of Antonius and Faustina
Temple of Castor and Pollux
Detail bagian Arc of Septimius Severus

Kompleks-kompleks reruntuhan ini bermuara pada Monumen Victor Emmanuel II, dengan pandangan luas tak bertepi ke arah Piazza Venezia. Untuk turun ke badan jalan yang terlihat sangat jauh di bawah sana, harus melalui anak tangga yang jumlahnya entah berapa tapi bisa bikin naik betis. Saya terduduk kelelahan sambil menikmati pemandangan luas ke arah alun-alun Piazza Venezia. Setelah berhari-hari di sini, saya menjadi yakin suatu hari akan kembali lagi ke Roma karena sudah melempar tiga koin di kolam Trevi.

Pemandangan ke arah Piazza Venezia

2 Comments

Join the discussion and tell us your opinion.

Minke Prasetyoreply
September 18, 2015 at 1:44 am

Luar biasa memang Romawi pd masanya, bahkan kesan thd peninggalan2nya dimasa kini. Msh kecil rasanya bangsa leluhur kita, bahkan dg borobudurnya. Detil artistic kuat megah dan agung. Sayang hari ini cm punya 4 jam utk menjelajahinya. Smoga bs datang lg, dg keluarga tentu.
Salam,
Arif

Wiwikreply
September 18, 2015 at 11:07 am
– In reply to: Minke Prasetyo

Enjoy Roma! Sayang sekali hanya punya 4 jam. Semoga kembali lagi ke sana bersama keluarga ya Mas Arif.

Leave a reply