Food from Heaven @ Padang City

Orang Minang patut bersyukur bahwa Tuhan memberikan anugerah dibidang kuliner yang tak berbatas. Menurutku, tak ada makanan yang tak enak di Kota Padang. Mulai dari warung kaki lima hingga hotel berbintang semua menyajikan masakan yang luar biasa menggoyang lidah.
Ditambah lagi kemampuan menghidangkan makanan dengan piring bertumpuk-tumpuk. Pekerja di warung padang akan dengan sigap “memindahkan” piring-piring ditangan dan menumpukkannya  di atas meja.  Aku tak pernah tahu berapa lama mereka belajar melakukan itu, dan apakah ada piring-piring yang jatuh dan pecah saat pertama kali mereka melakukannya. Aku sendiri memegang 3 piring aja sudah grogi.
Masyarakat senusantara pun turut mencicipi anugerah yang diberikan Tuhan itu. Berkat budaya merantau dan kegigihan orang Minang, usaha warung makan mereka menjamur hampir di setiap sudut negeri. Mereka memberi nama warung/rumah makan padang, diikuti dengan nama yang unik dan khas seperti Elok Saiyo, Saiyo sakato, Raso Basamo, Lamun Ombak, dll. Seperti yang kulihat di Pulau Flores , Nusa Tenggara Timur, warung makan padang menjadi kuliner yang mendominasi setiap kota mulai dari Labuan Bajo di bagian barat Pulau Flores hingga Ende yang berada di bagian tengah. Pernah di suatu siang, aku sedemikian terpukaunya menyaksikan seorang bapak yang makan di warung padang dengan porsi yang membuatku tak perlu makan selama seminggu. Setelah si bapak pergi, si Ibu pemilik warung yang asli orang Minang asal Ladang Laweh menjelaskan, “semua orang di sini sangat suka makanan bersantan dan berlemak, karena masakan lokal tidak memakai bumbu dan santan”. Dan itu terjadi di Kota Ende, yang berjarak tempuh 5 jam lebih menggunakan pesawat  dari Kota Padang dengan transit di Jakarta, Denpasar, dan Labuan Bajo.
Di manapun berada, warung padang seperti “ penyelamat”  buatku. Saat kuliner lokal di mana aku berada sudah harus dipadu dengan selera sumateraku yang membutuhkan masakan berbumbu, pedas dan bersantan. Di manapun aku melakukan perjalanan di tanah air, warung padang sudah seperti “warung sejuta umat” dengan selera nusantara sepanjang masa.
di Kota Padang sendiri, hanya ada satu warung makan Padang yaitu Rumah Makan Sederhana yang menyebut warungnya dengan rumah makan padang. Sedikit sama dengan pengalamanku yang tak menemukan penjual ayam taliwang di Kota Taliwang, Sumbawa Barat. Selain warung makan yang semuanya enak, seafood di pinggir pantai kala malam hari juga luar binasa bikin kalap. Semua dilengkapi dengan sambal pedas yang membuat selera makan semakin menggila.
Tempat sarapan yang akan membuat pagi menjadi bergairah adalah Harum Manis, salah satu warung sarapan di daerah pecinan Padang. Warung ini biasa saja. Tapi atmosfer dan makanan yang berjejer di depan warung akan membuat pagi menjadi lebih bergairah. Orang-orang keluar masuk, dan duduk di meja-meja yang dipenuhi kerupuk, kue-kue tradisional dan berbagai aroma makanan memenuhi ruangan. Aku memilih sate padang untuk sarapanku. Betul-betul sarapan yang berat. Tapi aku tak dapat menahan hasrat karena mencium aroma sate dengan kuah berwarna kekuningan itu. Dan semua makanan yang terhidang di atas meja benar-benar membuatku lupa dunia di luar warung makan ini.

Kekuatan masakan orang minang ini terletak dari bumbunya yang kaya dan santan yang kental. Temanku Darmanto yang bertugas di Pulau Siberut pernah mengajak kami ke sebuah restaurant yang tidak menyebut warungnya dengan nama rumah makan padang. Tengah hari dengan perut keroncongan, aku harus menahan diri untuk tidak kalap menghadapi nasi putih hangat yang masih mengepul, sambal hijau dengan tomat dan baluran minyak yang membuatnya tampak berkilau,  Gulai tunjang (kikil kalo orang jawa bilang) dengan santan menguning yang kental, rendang daging berwarna kecoklatan dengan aroma khas dan membuat kolesterol berteriak gembira, sambal udang dan pete yang selalu tampil sukses dengan rasa enak di tangan orang minang, dan berpiring-piring makanan lainnya yang digelar berjejer di meja makan. Semua itu akan sempurna bila dimakan dengan tidak menggunakan alat apapun. Sendok, garpu, pisau, apalagi sumpit, benar-benar akan mengurangi kenikmatan acara makan siang ini.
Aku menumpahkan gulai cumi yang kuning mengental di atas nasi yang masih mengepul tadi. Kepulannya terlihat berbelok saat aku menumpahkan kuah santan diatasnya.  Gulai tunjang, rendang, sayur daun singkong (di Sumatera disebut daun ubi) dan sambal Hijau makin menyempurnakan ritual yang paling menyenangkan bagi umat manusia ini. Entah kandungan apa yang ada pada tangan orang Minang, yang jelas, siang itu hasratku bukan hanya untuk memenuhi rasa lapar benar-benar tercapai. Semua terasa nikmat dan aku patut mengucap syukur masih diberi kesempatan mencicipi hasil karya manusia yang merupakan anugerah dari Tuhan ini.

1 Comment

Join the discussion and tell us your opinion.

Adam pratamareply
December 16, 2011 at 2:50 pm

hahahasiikk…kalo saya yg makan, itu piring2nya juga dilahap sekalian :p
selamat juga buat rendang yg terpilih menjadi santapan paling enak di dunia thn ini versi CNNGo.com,,mnglhkan masakan2 international lainnya macam: sushi,kebab,pizza,dll!!
emg soal perut indonesia ga ada kenyangnya! 😀

Leave a reply