Eksplorasi Romantisme Sungai Gangsal, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh*

Sungai Gangsal adalah sungai yang membelah kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Taman nasional ini terletak di dua propinsi, Riau dan Jambi. Tepian sepanjang Sungai Gangsal adalah tempat bermukimnya masyarakat tradisional suku Talang Mamak dan Melayu tua secara turun temurun, yang merupakan masyarakat asli di daerah itu. Sungai ini memberikan kehidupan bagi masyarakat kedua suku tersebut. Mereka memancing ikan, minum, mandi, mencuci dan menjadikan sungai ini sebagai media bagi rakit bambu dan perahu mereka untuk mencapai berbagai tujuan di berbagai kampung lain.








Perjalananku dan teman-temanku ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dimulai dari Pekanbaru. Berhubung pesawat dari Jakarta tiba agak sore kami menginap satu malam di Rengat untuk kemudian melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Dari Pekanbaru ke Rengat ditempuh dalam waktu 3 jam lebih dengan mobil. Kami menginap di hotel Danau Raja yang menghadap ke sebuah danau. Sayangnya danau yang dijadikan tempat rekreasi masyarakat di Rengat itu ditutup dengan pagar seng sehingga kesannya seperti gudang atau tanah kosong yang ditutupi. Titik awal perjalanan kami dimulai dengan mengurus perizinan ke Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Pematang Reba, Rengat. Balai ini memiliki pusat informasi yang lumayan menarik. Di sini bisa memperoleh buku panduan berbahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dalam edisi yang sangat terbatas. Setelah mendapatkan izin, kami melanjutkan perjalanan dengan mobil ke Simpang Pendowo, salah satu pintu masuk ke TNBT. Kami ditemani oleh Pak Mardius, tenaga kerja yang diberdayakan oleh TNBT sebagai penjaga taman yang informatif dan super ramah. Sepanjang perjalanan kearah Simpang pendowo, pemandangan perumahan penduduk dan perkebunan kelapa sawit langsung menyergap mata. Untuk menyusuri Sungai Gangsal, kami mengawalinya dengan mendatangi Dusun Datai, yang merupakan kampung suku Talang Mamak, suku asli kawasan ini. Untuk mencapai kampung ini, harus menempuh 3 jam perjalanan dengan ojek motor dari Simpang Pendowo ke Simpang Datai dan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 2,5 jam dari Simpang Datai ke Dusun Datai.

Menunduk © Markus Deni Kuncoro









Perjalanan dengan motor dari Simpang Pendowo ke Simpang Datai benar-benar memicu adrenalin. Selain kondisi jalan yang luar biasa buruk dan licin karena hujan, pengemudi motor harus ekstra hati-hati. Karena di beberapa ruas jalan dihadang jurang yang menganga lebar di sisi kiri atau kanan jalan. Diantara pemandangan rimbun kelapa sawit, pemandangan bukaan lahan yang luas terbentang sangat kontras dengan siluet hijau hutan Taman Nasional Bukit Tigapuluh di kejauhan. “Saya yakin tahun depan jalan ini akan mulus” kata Pak Bono, salah satu pengendara ojek motor yang membawa kami ke Simpang Datai. Pak Bono dengan cekatan menghindari lubang dalam yang membentuk kolam karena berisi air bekas hujan. “Dulu ini bekas jalan, truk juga masuk, bawa keluar kayu-kayu di dalam sana” jelasnya lagi. Pak Bono menambahkan bahwa makin banyak orang tertarik membuka kebun kelapa sawit di daerah tersebut. Dalam perjalanan, elang dan berbagai jenis burung lainnya yang menyambut kami menjadi penyejuk diantara pemandangan bukaan lahan yang menganga lebar di beberapa bagian hutan. Sesekali pula motor kami harus berhenti untuk menyingkirkan kayu rubuh yang menghalangi jalan. Sesampainya di Simpang Datai kami harus berpisah, perjalanan selanjutnya tidak mungkin ditempuh dengan motor jadi harus berjalan kaki. Menuju Kampung Datai dilakukan dengan menembus hutan dalam kawasan Taman Nasional. Rimbunnya pepohonan, suara kicau burung dan berbagai satwa lainnya seolah menyapa ramah kami si pejalan kaki. Di beberapa titik, memiliki medan yang cukup berat. Kontur tanah yang naik turun dengan jurang di kiri atau kanannya, serta beberapa titik dimana jalan terputus sehingga harus mengandalkan akar pohon yang sangat kuat untuk berjalan. Titik-titik rawan ini memang cukup mendebarkan ketika dilewati.
Sebuah papan biru bertuliskan “Selamat datang di Dusun Datai” menyambut kami. Kali ini kami harus melepaskan sepatu karena untuk menuju dusun ini harus menyeberangi sungai yang dangkal. Dinginnya air sungai menjadi penyejuk kaki penumpu badan yang sudah lelah karena berjalan serta mengangkut persediaan logistik.
Tiba di Dusun Datai, bangunan pertama yang terlihat adalah sebuah sekolah sangat sederhana yang tengah dibangun serta beberapa bangunan rumah. Dusun Datai hanya terdiri dari beberapa rumah dengan tipe bangunan tidak permanen yang terbuat dari papan serta beratap daun kelapa atau seng, tanpa listrik apalagi sarana air bersih. Hunian tersebut berupa rumah panggung untuk menghindari binatang dan genangan air saat musim hujan. Rumah-rumah itu belum terorganisir dengan baik dan rapi tetapi telah dihubungkan dengan jalan-jalan tanah yang secara struktur sebenarnya terdapat jalur yang tegas. Pendudukpun dengan ramah menyambut dan menyalami kami satu persatu. Jangan membayangkan macam-macam tentang masyarakat suku asli yang tinggal di tengah hutan. Masyarakat ini telah memiliki banyak kontak dengan masyarakat luar kampung mereka. Mereka memakai baju, celana jeans, dan bertopi baseball serta dapat berbicara bahasa Indonesia dengan sangat baik dan lancar.
“Selamat datang di Dusun Datai”, sambut Pak Katak, salah satu penduduk. Pak Katak tinggal di salah satu rumah terbaik di dusun ini. Rumah itu bekas gereja peninggalan salah satu misionaris dari Perancis yang pernah ke sana. Setiap ada tamu selalu diterima di rumah tersebut. Rumah ini hanya terdiri dari satu ruangan besar dan seperempat bagian rumah disekat dengan pembatas setinggi bahu orang dewasa yang dibagi lagi menjadi dua ruangan yang merupakan kamar tidur.  “Sebagian orang di sini sudah katolik, tapi kami masih percaya kepada kekuatan alam”, jelas Pak Katak ketika menerangkan rumah yang ditempatinya. Suku Talang Mamak adalah penyembah alam. Konon, beberapa misionaris pernah mencoba masuk tapi kepercayaan mereka terhadap alam tetap kuat.
Dusun Datai sejatinya adalah dusun di jantung Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Menurut data Balai TNBT, pada tahun 1999 penduduk Talang Mamak mencapai 97 keluarga atau 523 orang. Pada umumnya, mata pencaharian penduduk adalah bertani dengan mengolah sawah tadah hujan, bertanam ubi, salak dan sayur-sayuran lainnya. Menyadap karet dan mengumpulkan madu juga dilakoni penduduk Dusun Datai. Untuk mandi, minum dan menuju ke desa lain, penduduk dusun mengandalkan air Sungai Gangsal. Begitupun kami. Malam hari kami di dusun ini, kami menuju sungai untuk mandi. Inilah sungai yang akan kami arungi besok. Menyentuh airnya yang dingin segar segera menghilangkan segala penat.

Kami makan malam ditemani pelita, satu-satunya cahaya yang menerangi Dusun Datai malam itu. Untuk berhemat, masyarakat tidak ditemani cahaya apapun dimalam hari, karena pelita butuh minyak. “Biasanya kalau ada tamu, kami berkumpul di sini”, kata Pak Katak. “Karena pasti di sini terang. Tidak semua orang bisa bayar minyak untuk pelita, kalau ada uang buat beli minyak, rumah terang, kalau tidak ada uang, ya sudah, rumah akan gelap”,  tambah Pak Katak lagi sambil terus merokok. Penduduk Datai, perempuan atau lelaki, adalah perokok berat. Asbak sepertinya tidak dikenal di sini, karena mereka memiliki kebiasaan menebarkan abu rokok dimanapun berada.
Hari yang dinantikan telah tiba. Keesokannya, tepat pukul 8 pagi, kami mulai siap-siap hendak mengarungi Sungai Gangsal. Kami mengunakan dua jenis perahu; satu sampan kayu, dan dua rakit bambu. Perjalanan dimulai dari hulu ke salah satu titik hilir sungai. Perjalanan menyusuri Sungai Gangsal akan dilakukan selama dua hari. Titik hilir yang kami tuju adalah Lemang yang akan membuka jalan untuk mengantar kami menuju Siberida untuk selanjutnya menuju Kota Jambi.
Pagi itu cuaca agak mendung. Matahari sedikit malu-malu memancarkan sinarnya. Namun hal itu tidak mengurungkan niat kami untuk merasakan detak jantung dan romantisme sungai yang sudah menjadi bagian dalam kehidupan banyak orang di kawasan taman nasional ini. Rakit bambu kami mulai berjalan perlahan. Kupu-kupu dan suara burung mulai menyambut tamu-tamu Sungai Gangsal pagi ini. Pak Mardius sibuk menerangkan nama setiap pohon dan jenis burung yang memamerkan suaranya. “Dengar…itu burung rangko”, katanya. Aku belum sempat bertanya itu burung apa Pak Mardius lalu meletakkan telunjuknya dibibir sambil menunjuk ular berwarna hitam kelam yang dikenal luar biasa berbisa tengah bermalas-malasan di salah satu dahan pohon yang menjulur ke sungai. Sesekali Pak Mardius, dengan bahasa lokal, menegur beberapa orang yang tengah berdiri di tepian sungai di kampung-kampung sepanjang sungai. Kampung-kampung itu hanya terdiri dari beberapa rumah yang terpisah dengan jarak yang lumayan jauh. Di sepanjang Sungai Gangsal, berdiri kampung Suku Talang Mamak dan Melayu Tua yang berselang seling bertetangga. Kalau Suku Talang Mamak masih beraliran kepercayaan, Suku Melayu Tua sudah menjadi muslim.

Menyusuri Sungai Gansal © Markus Deni Kuncoro

Lansekap Taman Nasional Bukit Tigapuluh memang luar biasa. Karena berbagai kekayaan yang dimilikinyalah maka kawasan ini dikukuhkan sebagai taman nasional pada 1995 dengan fungsi antara lain sebagai daerah konservasi untuk melindungi kekayaan beragam hayati dan satwa yang beberapa diantaranya terancam punah. Kawasan taman nasional ini juga merupakan hunian dan sumber penghidupan masyarakat tradisional Suku Anak Dalam, Suku Talang Mamak dan Suku Melayu Tua. Taman Nasional Bukit Tigapuluh menempati lahan seluas 143,143 hektar dengan ketinggian mencapai 60 – 843 m di atas permukaan laut. Sesuai dengan namanya, daerah berbukit-bukit mendominasi kawasan. Terdapat kurang lebih tujuh belas bukit yang sudah memiliki nama. Hamparan perbukitan ini bukan termasuk bagian dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan. Primadona vegetasi di kawasan ini adalah cendawan muka rimau (Rafflesia hasseltii). Satwa langka yang menempati hutan TNBT adalah Gajah Sumatera (Elephas maximus), Harimau Loreng Sumatera (Panthera tigris sumatraensis), Rusa (Cervus unicolor), Siamang (Hylobates syndactylus), Lutung (Presbytis cristata) tapir (Tapirus indicus) dan Macan tutul (Neofelic nebulosa). Taman nasional ini juga merupakan rumah bagi 6 jenis primata, 192 jenis burung, 16 jenis Kelelawar dan berbagai jenis kupu-kupu.
Pak Sukar, salah satu penggalah mengayunkan galahnya dengan sangat cekatan. Semua penggalah memperhatikan tanda-tanda alam di sekitar sungai untuk mengetahui ketinggian air nantinya. “Kalau hujan, galah kita akan sulit mencapai dasar sungai” jelas Pak Sukar. Setiap melewati anak sungai yang memuntahkan airnya ke Sungai Gangsal, para penggalah ini memperhatikan dengan seksama. “Kalau air tinggi, kita akan semakin lama mencapai tujuan, karena galahnya tak sampe ke dasar sungai, jadi rakitnya susah geraknya”, jelasnya lagi sambil terus memperhatikan keadaan sungai. Para penggalah menggunakan sebatang bambu yang panjang untuk digunakan sebagai penopang jalannnya rakit. Derasnya arus juga cukup membantu laju rakit bambu yang kami tumpangi. Memang saat kami mengunjungi kawasan ini, musim hujan tak kunjung berakhir. Di berbagai titik terdapat jeram yang cukup mendebarkan saat dilewati. Bayangkan saja, kami tidak dilengkapi alat keselamatan apapun. Baik pelampung, tali dan lain sebagainya. Namun entah kenapa, aura pengetahuan lokal masyarakat Datai kami rasakan sangat membantu menghilangkan perasaan tidak aman. Sayangnya, setengah hari kami di Sungai Gangsal harus bergelut dengan hujan deras. Untungnya kami sudah mempersiapkan jas hujan jadi tidak begitu kerepotan. Beberapa siamang terlihat hendak menyelamatkan diri dari guyuran air hujan dengan mencari bagian yang rimbun di atas pepohonan yang tinggi
Sore hari pertama menyusuri Sungai Gangsal, kami singgah di Nunusan, dusun tempat bermukimnya Suku Melayu. Di dusun ini bangunan rumah lebih sedikit dari pada di Dusun Datai. Kami menginap di salah satu rumah penduduk berbentuk rumah panggung yang terletak di dekat tepian sungai. Rumah panggung ini terdiri dari dua ruangan: ruang tamu merangkap ruang tidur, dan ruang duduk. Disitu terdapat televisi, vcd player dan tape lengkap dengan pengeras suara. Ruangan lainnya adalah dapur. Makan malam di Nunusan terasa sangat nikmat, namun kenikmatan kami terganggu oleh pengeras suara yang memperdengarkan lagu dangdut. “Bisa buat lagu dangdut keras begitu adalah kemewahan”, jelas Pak Mardius. “Sama seperti di Dusun Datai, tidak semua orang bisa menikmati listrik, jadi harus beli minyak dulu untuk bisa dengar lagu-lagu dari tape atau nonton tivi”, tambahnya lagi sambil membetulkan sarung bututnya. Pak Mardius adalah salah satu tenaga yang diberdayakan Balai TNBT untuk turut menjaga keamanan taman. Pak Mardius mendapatkan tambahan penghasilan apabila ada yang mendaulatnya untuk mendampingi pengunjung yang mendatangi TNBT. “Bila tak ada tamu, saya menyabung ayam atau cari petai”, kata Pak Mardius tanpa malu-malu. Karena sudah larut, percakapan kami harus diakhiri. Malam itu kami tidur dengan ditemani suara jangkrik yang beradu suara dengan lagu dangdut yang memekakkan telinga.
Hari kedua menyusuri Sungai Gangsal, kami harus menghadapi jeram yang lebih sadis lagi. Kecekatan para penggalah membuat rakit kami terhindar dari hantaman bebatuan besar yang menyembul diantara besarnya riak jeram. Rakit bambu bisa dengan aman melewati jeram-jeram tersebut, namun sampan tidak akan mampu melewatinya. Jeram-jeram Sungai Gangsal yang menghadang pada hari kedua ini lebih berat daripada hari pertama. Sebagian temanku yang menumpang sampan harus turun di beberapa titik sungai untuk berjalan kaki menyusuri pinggiran sungai. Ini dilakukan untuk menghindari terbaliknya sampan karena beratnya muatan ketika melewati jeram. Setelah melewati jeram yang melelahkan, kami masih diberi anugerah pemandangan pagi hari yang sangat berbeda. Lebih banyak kampung yang kami lewati. Penduduk masih banyak yang melakukan aktivitas di sepanjang tepian sungai. Seorang lelaki tua sedang duduk santai menikmati pagi, sementara para perempuan mencuci dan mandi. Di sudut lain, anak-anak berenang dengan riangnya ditengah air sungai yang berwarna kecoklatan sehabis hujan. Ada juga yang sedang memancing atau mengambil air dengan ember berwarna hitam.

Rakit Bambu © Markus Deni Kuncoro

Lalu, tibalah kami pada titik dengan pemandangan paling menakjubkan selama mengarungi sungai ini. Pintu Tujuh adalah salah satu bagian dimana terdapat beberapa gua dan ”jembatan alami” yang terbuat dari satu batang pohon besar. Melewati pintu tujuh serasa memasuki melewati pemandangan ala kartu pos. Lebatnya pohon membuat warna hijau air sungai menjadi semakin nyata, dan alam sekitar hanya didominasi semburat warna hijau pepohonan, birunya langit yang menyembul malu-malu diantara dedaunan, serta warna coklat batang pohon yang basah dan lembab. Tiga jam kami menyusuri Sungai Gangsal pagi ini dan akhirnya kami tiba di Lemang. Namun kami harus berjalan kaki sedikit karena mobil tidak bisa masuk jalan di desa ini. ”Mobil menunggu di depan, setelah jembatan, jalan licin dan berlumpur, jadi tidak ada kendaraaan yang bisa lewat”, jelas salah satu penduduk lokal yang berbaik hati menunggu kami karena permintaan supir mobil yang kami tumpangi. Akhirnya, kami harus berjalan kaki lagi kurang lebih setengah jam untuk mencapai mobil yang menunggu dan akan membawa kami ke Jambi. Keluar dari Sungai gangsal dan lebatnya hutan, aku masih merasakan aroma basah dedaunan dan tanah bekas hujan yang aku hirup. Wajah-wajah dan senyum tulus masyarakat asli juga masih berkelana dipelupuk mata. Walau singkat, dalam eksplorasi kali ini aku menemukan lebih dari sekedar romantisme Sungai Gangsal. Salah satu mimpiku sudah tercapai, mimpi merasakan detak kehidupan sebuah sungai di belantara hutan sumatra.
*Dimuat di Majalah Travel Club, Agustus 2007

2 Comments

Join the discussion and tell us your opinion.

adereply
February 9, 2012 at 11:33 pm

makasi atas kunjungannya…
mudah2n memberi kesan tersendiri selama di tnbt

Wiwikreply
February 9, 2012 at 11:45 pm
– In reply to: ade

Terima kasih Pak Ade. Sangat terkesan di TNBT. semoga pak mardius masih ada di sana.

Leave a reply