Berburu Lumba-lumba Lovina

Bali bagian utara adalah destinasi wisata favorit teman-temanku dari Eropa. Kawasan Bali Utara yang aku maksud mulai dari Pemuteran, Seririt, Lovina, Air Sanih, Tejakula, hingga Sambirenteng. Sedikit luput dari teman-teman domestik yang lebih menyukai keriuhan Selatan Bali. Salah satu alasan ke Utara (baca: Lovina) adalah mengejar lumba-lumba yang selalu muncul dipagi hari, selain kegiatan diving dan snorkeling yang mulai menggeliat mengejar ketertinggalannya dari kawasan timur dan selatan Bali.
Pertama menginjakkan kaki di Lovina, aku seperti berada di Anyer atau Carita, Provinsi Banten. Panas, kering, dan pasir pantainya hitam. Tapi itu tidak mengurangi keindahannya. Bali memang punya kelebihan, atmosfir berlibur yang terasa sampai ke desa terpencil sekalipun. Denyut nadi aktifitas di Lovina sangat terasa di sepanjang small lane di Kalibukbuk dan Kaliasem, di mana berjajar café, restaurant, warnet, money changer, penginapan dan fasilitas untuk para penikmat liburan.

Bali Utara yang lebih tenang, mampu berdamai dengan penduduk muslim yang sudah berbaur dengan penduduk Hindu dan ekspatriat. Diperkirakan lebih dari 50,000 penduduk muslim asal Bugis tinggal di sekitar kawasan pantai timur Bali. Tak heran, nama campuran muslim dan Bali seperti Ketut Muhammad, atau Made Ibrahim dapat ditemukan di sini. Berbaur bersama suara azan berkumandang dan suara umat hindu yang mengadakan upacara di Pura semalam suntuk.
Melihatnya cukup dari sini!
Sehari sebelum aku mengejar lumba-lumba, aku menghubungi Pak Made (tanpa Ibrahim), salah satu pemilik kapal jukung yang menyediakan kapalnya untuk berburu lumba-lumba. “Isi kapal maksimal 4 orang”, katanya sambil tetap sibuk menyiapkan kapalnya. Aku tercenung karena aku sendirian. “Kalau sendiri gimana pak?”, tanyaku. “Ya sudah, harus bayar penuh untuk 4 orang”, jawabnya singkat. Akhirnya tentu aku harus seorang diri berada di jukungnya yang diberi nama “29”. Semua jukung di Lovina diberi nama.








Esoknya,  pagi-pagi buta, sekitar jam 05.30 aku sudah bersiap menuju pantai, bertemu Pak Made di tempat yang sudah dijanjikan. Tepat sebelum jam 06.00, aku sudah berada di jukungnya Pak Made, siap berburu lumba-lumba langsung di habitatnya. Sebenarnya ini bukan kegiatan yang aku sukai. Apa rasanya sekelompok manusia memandangi ketika seekor lumba-lumba bermain bersama temannya? Tapi diiringi rasa ingin tahu, dengan setitik harapan melihat mereka walau dari kejauhan, aku memutuskan untuk melakukan kegiatan ini.

Pagi itu jukung Pak Made tidak sendiri. Ada puluhan jukung lainnya yang juga berlomba untuk melihat Lumba-lumba secara langsung. Kalau tidak biasa, duduk di Jukung akan sedikit menyeramkan. Bayangkan saja, tidak ada pembatas di kiri kanan, Cuma ada tempat duduk kecil, dengan air laut langsung di kiri dan kanan kita.


Sekitar satu jam Pak Made berbaur dengan puluhan jukung lainnya bergerak ke segala arah mencari lumba-lumba, namun tak satupun terlihat. Hari itu mungkin kami kurang beruntung, atau lumba-lumba itu mendengar doaku, kalau aku cukup menyaksikan mereka dari jauh. Setelah bergerak selama 1.5jam, akhirnya salah satu jukung berteriak memanggil penumpang jukung lain untuk melihat kearah yang ditunjuknya. Pak Made langsung bergerak kearah yang ditunjuk. “Itu Mbak, lihat ke sana!!”, teriaknya bersemangat sambil berusaha terus mendekat. Aku yang terpana hanya bisa berteriak,”Pak, sudah ga usah dekat-dekat, cukup dari sini”, balasku. Pak Made seperti tidak mau membuat tamunya kecewa, ia terus berusaha mendekat. Sebelum kami sempet mendekat, lumba-lumba itu sudah kabur tanpa jejak, dan tak seorang pun dari jukung lainnya yang melihat kemana lumba-lumba itu pergi. “Wah, mba, tidak sempat foto ya?”, kata Pak Made dengan wajah penuh penyesalan. “Ini sedikit mengherankan, biasanya belum 15 menit sudah ketemu lumba-lumba, tapi kali ini, kita lumayan jauh loh mbak jalannya, sudah hampir ke tengah laut ini,”katanya heran. “Lumba-lumba itu akan selalu muncul setiap pagi di tempat yang sama”, imbuhnya. Kasihan, lumba-lumba itu pasti terganggu oleh deru mesin jukung-jukung dengan penumpang yang memburunya.
Pak Made mengarahkan jukungnya kembali ke pantai, tapi berbeda arah dengan jukung lainnya. “Kasian mba ini, tidak puas lihat lumba-lumbanya, saya bawa ke taman laut ya, sayang tidak bawa snorkel”, perkataan Pak Made membuatku terharu. Naluri ingin memuaskan tamu yang aku temui di hampir semua tempat di negeriku. Aku berusaha meyakinkan Pak Made bahwa itulah resiko melihat satwa di alam bebas, dan itu tidak berlaku hanya untuk  lumba-lumba saja, tapi semua jenis satwa. “Tamunya yang harus mengerti, jangan Pak Made yang merasa bersalah “, jelasku. Pak Made tetap membawaku ke taman laut, lokasi snorkeling yang keindahan bawah lautnya bisa dinikmati dari permukaan.”Sayang sekali tidak bawa snorkel ya mbak, masak bule-bule sudah menikmati tempat ini, orang kita tidak”, kata-katanya sedikit mengejutkanku. Baru kali ini aku mendengar orang Bali sendiri bicara seperti itu di Bali. Setelah puas bermain dengan ikan-ikan, kami bergerak ke pantai diiringi garangnya terik sinar matahari. Jam 09.00 pagi sudah seperti jam 12.00 siang panasnya. Walau tak melihat lumba-lumba dengan jelas, tapi aku tak pernah menyesal. Mungkin karena doaku sebelum berangkat telah menggema bahwa, “cukup melihat mereka dari sini”, dari jarak yang tak bisa kubayangkan seberapa jauhnya.
Info Praktis:
Sangat mudah mencari jukung untuk melihat lumba-lumba. Bisa pergi ke Pantai Lovina untuk langsung menemui nelayan penyedia jasa jukung, atau melalui hotel tempat menginap. Biaya Rp. 75,000/orang. Pihak hotel dan penyedia jasa jukung memiliki kesepakatan untuk menawarkan harga yang sama.  Perjalanan memburu lumba-lumba harus sudah dimulai pagi sekali antara jam 05.30 – 06.00. Lakukan reservasi sehari sebelum keberangkatan untuk perburuan. Paket wisata melihat lumba-lumba juga bisa dipesan melalui berbagai agen dan hotel di Bali Bagian Selatan (Kuta, Legian, Sanur, Nusa Dua, Ubud dll).
Petunjuk melihat Lumba-lumba (Dikutip dari The Natural Guide to Bali):
Benjamin Kahn, ahli biologi kelautan berujar, ada beberapa penyebab lumba-lumba kembali ke tempat yang sama, di tempat itu banyak ditemukan makanan, rute migrasi, tempat mereka menghindar dari predator lain, atau bahkan tempat mereka bercinta. Jangan dikira mereka tidak terganggu oleh aktifitas manusia dan suara mesin. Di satu sisi, kegiatan ini dapat memberikan keuntungan kepada nelayan setempat, dan membuat mereka bersemangat untuk menjaga kelestarian kehidupan laut. Bila memutuskan untuk melakukan kegiatan ini, beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Jelaskan pada si pemilik kapal, bahwa anda tidak bermaksud untuk memburu lumba-lumba, mintalah mesin kapal dimatikan dan jaga jarak dengan para lumba-lumba jika melihat mereka. Akibatnya?anda tidak akan menyaksikan lumba-lumba itu dari jarak dekat dan mungkin akan mempertanyakan apakah sesuai dengan uang yang sudah anda keluarkan untuk melakukan aktifitas ini. Tapi apa yang anda lakukan justru menunjukkan pada para nelayan bahwa tidak semua wisatawan melakukan tindakan yang tidak menghormati satwa. Pengakuan para nelayan pembawa jukung di Lovina, para wisatawan biasanya meminta mereka mengejar lumba-lumba untuk difoto dari dekat, menyentuh, bahkan ada yang ingin berenang bersama di laut!. Ketenangan di laut justru akan membawa anda kepada atraksi yang lebih spektakuler, yaitu kegiatan mereka makan, mencari makanan atau bahkan bercinta!

Share your thoughts